TVRINews – Jakarta
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026 berada pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen, ditopang oleh stimulus fiskal serta penguatan investasi domestik di tengah dinamika global.
Bank Indonesia memproyeksikan perekonomian nasional sepanjang tahun 2026 mampu tumbuh positif pada kisaran 4,9% hingga 5,7%. Proyeksi tersebut didasarkan pada asesmen terhadap berlanjutnya stimulus pemerintah, perbaikan ekspektasi para pelaku usaha, serta optimalisasi berbagai motor penggerak pertumbuhan domestik.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa optimisme ini berpijak pada stabilitas konsumsi rumah tangga yang terjaga melalui intervensi fiskal, serta menguatnya tingkat kepercayaan konsumen.
Selain itu, kinerja investasi menunjukkan tren positif yang bersumber dari belanja modal pemerintah serta pemulihan partisipasi sektor swasta, sebagaimana tercermin dalam indikator Purchasing Managers' Index (PMI) yang berada di zona ekspansif.
"Bank Indonesia memperkirakan pada tahun 2026 pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 4,9% hingga 5,7%," ujar Destry dalam keterangannya di Jakarta, Rabu 21 Oktober 2026.
Ia menambahkan, sektor eksternal juga menunjukkan ketahanan melalui peningkatan kinerja pengapalan komoditas nonmigas. Kendati demikian, otoritas moneter menekankan pentingnya optimalisasi momentum kenaikan harga komoditas global guna memperkuat daya saing ekspor nasional.
Sebagai langkah antisipatif untuk menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir tahun, pemerintah dijadwalkan meluncurkan sejumlah paket stimulus tambahan pada kuartal IV-2026.
Berdasarkan data resmi, paket tersebut mencakup penyaluran bantuan pangan beras sebanyak 10 kilogram bagi lebih dari 32 juta keluarga penerima manfaat, subsidi upah senilai Rp300.000 per bulan selama tiga bulan bagi 13,3 juta tenaga kerja, serta program inklusi keuangan melalui pembukaan rekening bagi warga negara berusia 17 tahun ke atas.
Dari sisi sektor eksternal, Bank Indonesia memperkirakan defisit transaksi berjalan atau current account deficit sepanjang 2026 akan berada pada kisaran 1,6% hingga 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Proyeksi ini mencerminkan tetap terjaganya ketahanan sektor eksternal di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
"Ke depan, ketahanan eksternal tetap kuat dengan perkiraan transaksi berjalan defisit 2,4% hingga 1,6% pada 2026," tutur Destry.
Sebelumnya, neraca transaksi berjalan pada triwulan II-2026 tercatat mengalami pelebaran ke level 12,5 miliar dolar AS atau setara 3,3% dari PDB, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang berada di angka 3,6 miliar dolar AS atau 1,0% dari PDB.
Sementara itu, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada periode triwulan II-2026 membukukan defisit sebesar 0,9 miliar dolar AS. Angka ini menunjukkan perbaikan signifikan apabila dibandingkan dengan defisit pada triwulan I-2026 yang mencapai 9,1 miliar dolar AS.
Otoritas moneter menilai konsolidasi kebijakan lanjutan tetap diperlukan guna memperkokoh fondasi ketahanan eksternal perekonomian nasional ke depan.
"Kinerja NPI masih perlu diperkuat guna meningkatkan ketahanan eksternal," pungkasnya.










