TVRINews, Jakarta
Pemerintah Indonesia mendorong ekonomi kreatif menjadi salah satu prioritas pembangunan global setelah berakhirnya Sustainable Development Goals (SDGs) pada 2030.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, mengatakan ekonomi kreatif perlu mendapat perhatian dalam agenda pembangunan dunia mendatang, seiring potensinya sebagai salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional.
"Jadi inilah para ekosistem, para pemerhati, para praktisi, termasuk negara-negara yang menganggap ekonomi kreatif ini memang menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasionalnya, ini menginginkan bahwa perlu disuarakan," ujar Riefky kepada wartawan termasuk tvrinews.com dalam konferensi pers usai pembukaan WCCE di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Riefky menjelaskan, upaya tersebut dibahas dalam pertemuan Friends of Creative Economy (FCA), yang mempertemukan para pemangku kepentingan ekonomi kreatif dari berbagai negara untuk membicarakan potensi dan kebijakan pengembangan sektor tersebut.
Dalam pertemuan itu, para peserta turut menyusun dokumen Jakarta Vision on Creative Economy yang akan ditawarkan dalam pertemuan tingkat menteri (ministerial meeting).
Dokumen tersebut diharapkan dapat diusulkan masuk ke dalam Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui kolaborasi dengan Kementerian Luar Negeri. Langkah ini ditujukan untuk mendorong ekonomi kreatif menjadi salah satu prioritas pembangunan dunia setelah SDGs berakhir pada 2030.
"Jadi mungkin teman-teman media memahami, SDGs akan berakhir di tahun 2030," ucapnya.
Menurutnya, forum tersebut menjadi ruang bagi berbagai negara dan pemangku kepentingan untuk menyampaikan pandangan bersama mengenai pentingnya pengembangan ekonomi kreatif dalam agenda pembangunan global.
Pertemuan FCA yang berlangsung dalam rangkaian WCCE 2026 dihadiri 472 peserta dari 64 negara serta tujuh organisasi internasional. Forum ini merupakan kelanjutan dari rangkaian FCA Square Meeting yang sebelumnya digelar secara daring pada awal dan pertengahan tahun dengan melibatkan ratusan pemangku kepentingan.
Melalui WCCE 2026, Indonesia mendorong penguatan kolaborasi internasional agar ekonomi kreatif memperoleh perhatian lebih besar dalam penyusunan agenda pembangunan dunia setelah 2030.
Sebagai informasi, WCCE merupakan inisiatif Indonesia yang dimulai pada 2018 di Bali. Penyelenggaraannya kemudian berlanjut di Dubai pada 2021, Bali pada 2022, Tashkent pada 2024, dan kembali ke Jakarta pada 2026. Keberlanjutan forum ini menunjukkan upaya Indonesia dalam mengawal diplomasi ekonomi kreatif di tingkat internasional.
WCCE 2026 mengusung tema "Inclusively Creative: Collective Continuity" yang mendorong kolaborasi untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu merespons dinamika global.
Agenda utama WCCE 2026 berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 di Hotel Indonesia Kempinski dan CGV Grand Indonesia, Jakarta. Rangkaian kegiatan meliputi Friends of Creative Economy Meeting pada 21 Oktober, Ministerial Meeting pada 22 Oktober, serta sesi pleno, Creative Sessions, dan B2B Matchmaking pada 22–23 Oktober 2026.
Selain konferensi utama, masyarakat juga dapat menikmati rangkaian Creativillage pada 21–25 Oktober 2026 di kawasan SCBD, Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang pengalaman kreatif yang menghadirkan karya dan aktivitas dari berbagai subsektor ekonomi kreatif.
Rangkaian Creativillage meliputi Soul of Indonesia di Akasta SCBD pada 21 Oktober, Village One di Ashta District 8 dan Village Two di MGP Space, SCBD Park pada 21–25 Oktober, serta WCCE Weekland di SCBD Park pada 24–25 Oktober 2026.
Berbagai kegiatan tersebut menghadirkan karya dari subsektor seni, desain, fesyen, literatur, permainan, teknologi, kuliner, kekayaan intelektual, hingga produk kreatif dari berbagai daerah di Indonesia.








