TVRINews, Jakarta
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan capaian kinerja sektor ESDM dalam Rapat Kbinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Dalam laporannya, Bahlil menyebut penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sektor ESDM berpotensi melampaui target, meskipun produksi batu bara mengalami penurunan.
"Saya tadi menyampaikan tentang kinerja, capaian kinerja daripada di sektor ESDM. Batu bara kita sekalipun produksinya menurun, tapi target PNBP kita bisa melampaui target," ujar Bahlil usai Rapat Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Bahlil mengatakan, PNBP sektor ESDM yang ditargetkan sebesar Rp133 triliun diproyeksikan dapat mencapai lebih dari Rp160 triliun. Sementara itu, devisa dari ekspor batu bara yang ditargetkan sebesar USD27 miliar diperkirakan menembus USD30 miliar.
"Pendapatan negara PNBP kita dari Rp133 triliun, itu bisa kita bisa mencapai di atas Rp160 triliun lebih. Jadi rata-rata oke," katanya.
Ia menjelaskan, capaian tersebut juga tercermin dari proyeksi devisa ekspor batu bara yang diperkirakan melampaui target tahun ini.
"Ekspor kita, target devisa dari sektor batu bara di tahun ini, itu akan mencapai melebihi target. Kita targetkan 27 miliar, ini akan bisa mencapai di atas 30 miliar US Dollar," ucapnya.
Selain melaporkan kinerja penerimaan negara, Bahlil menyampaikan perkembangan kondisi energi nasional, termasuk harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang mengalami kenaikan.
Menurutnya, rata-rata harga ICP saat ini berada di kisaran USD92 per barel, lebih tinggi dibandingkan asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar USD70 per barel. Kondisi tersebut berpotensi menambah kebutuhan subsidi energi pemerintah.
Meski demikian, Bahlil menegaskan pemerintah berkomitmen menjaga harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi agar tidak mengalami kenaikan.
"Tetapi pemerintah berkomitmen untuk tidak ada kenaikan BBM subsidi. Tidak ada kenaikan," tegasnya.
Bahlil menilai kondisi energi nasional saat ini relatif terkendali. Pemerintah, kata dia, tetap memperhitungkan perkembangan harga minyak dunia untuk mengantisipasi potensi peningkatan kebutuhan subsidi.
"Ya kita targetkan kalau begini terus mungkin di bawah 100 dolar per barel. Jadi relatif oke untuk BBM subsidi, insyaallah tidak ada kenaikan," pungkasnya.










