TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kondisi makroekonomi Indonesia masih kuat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, inflasi yang terkendali, serta cadangan devisa yang mencapai USD146 miliar.
"Kondisi makroekonomi kami sampaikan, di mana pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, 5,45 persen. Kemudian tingkat inflasi masih dalam range 2,5 plus minus 1 persen," ujar Airlangga usai Rapat Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Airlangga mengatakan, sejumlah indikator ekonomi lainnya juga menunjukkan kondisi positif. Ia menyebut Purchasing Managers’ Index (PMI) berada di level 52, sedangkan indeks keyakinan konsumen tercatat sebesar 118.
Lebih lanjut, Airlangga mengatakan cadangan devisa Indonesia sebesar USD146 miliar cukup untuk membiayai sekitar 6,5 bulan impor. Sementara itu, penyaluran kredit perbankan masih tumbuh sekitar 13 persen dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang relatif rendah.
"Kemudian juga capaian-capaian terkait dengan PMI masih optimis di 52 persen, 52 koma—di angkanya di 52. Kemudian indeks keyakinan konsumen masih 118, dan cadangan devisa kita 146 miliar, jadi cukup untuk 6,5 impor. Kemudian penyaluran kredit perbankan masih di 13 persen. NPL juga masih relatif rendah," tambahnya.
Selain indikator makroekonomi, Airlangga menyebut pelaksanaan program unggulan Presiden, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih, turut menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong perekonomian nasional.
Di sektor pangan, Airlangga menyebut stok beras nasional berada di atas 5 juta ton. Sementara itu, Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat sebesar 131,11. Ia menilai capaian tersebut turut menunjukkan kondisi yang positif di sektor pertanian.
"Jadi itu semuanya menunjukkan secara makro hal-hal positif," pungkasnya.










