TVRINews - Jakarta
Amerika Serikat, India, dan Filipina jadi pilar utama penopang surplus neraca perdagangan nasional periode Januari–Juli 2026.
Kinerja neraca perdagangan luar negeri Indonesia menunjukkan resiliensi yang luar biasa di tengah ketidakpastian geopolitik global. Berdasarkan laporan resmi Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Selasa, 1 September 2026, struktur ekspor nonmigas nasional berhasil mencatatkan surplus signifikan yang dimotori oleh tiga negara mitra strategis utama: Amerika Serikat, India, dan Filipina.
Pencapaian ini mencerminkan dinamika pemulihan ekonomi internasional serta daya saing produk manufaktur, komoditas energi, dan produk agrikultur Nusantara di pasar global.
Amerika Serikat tetap kokoh bertengger di posisi puncak sebagai kontributor surplus nonmigas terbesar, diikuti oleh India dan Filipina yang mencatatkan ekspansi perdagangan yang impresif selama paruh pertama tahun 2026.
" "Impor pada Juli 2026 sebesar US$26,09 miliar ," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers, Selasa 1 September 2026
Dinamika Tiga Pilar Mitra Strategis
Amerika Serikat mencatatkan volume perdagangan tertinggi dengan total nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 19,19 miliar, berbanding dengan impor sebesar US$ 6,38 miliar. Angka tersebut menghasilkan surplus perdagangan yang fantastis sebesar US$ 12,81 miliar bagi Indonesia.
Kontributor utama penopang surplus dengan Negeri Paman Sadam ini didominasi oleh sektor manufaktur dan industri kreatif, yakni mesin serta perlengkapan elektrik beserta bagiannya (HS 85) yang menyumbang US$ 2,45 miliar, diikuti oleh produk pakaian dan aksesorinya dari bahan rajutan (HS 61) senilai US$ 1,70 miliar, serta produk alas kaki (HS 64) sebesar US$ 1,67 miliar.

Sumber Data: BPS
Sementara itu, di kawasan Asia Selatan, India menunjukkan pertumbuhan permintaan yang kuat terhadap komoditas energi dan pangan Indonesia. Total ekspor ke India tercatat sebesar US$ 11,00 miliar dengan impor senilai US$ 3,04 miliar, sehingga memberikan surplus neraca perdagangan sebesar US$ 7,96 miliar.
Komoditas bahan bakar mineral (HS 27) menjadi motor penggerak utama dengan kontribusi mencapai US$ 3,53 miliar, disusul oleh produk lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebesar US$ 1,91 miliar, serta mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) senilai US$ 0,97 miliar.
Di kawasan regional Asia Tenggara, Filipina menjadi mitra dagang yang sangat diandalkan dengan surplus senilai US$ 4,72 miliar. Nilai ekspor nasional ke Filipina tercatat di angka US$ 6,09 miliar, sementara impor ditekan pada level US$ 1,37 miliar.
Sektor otomotif melalui kendaraan dan bagiannya (HS 87) memimpin kontribusi ekspor dengan angka US$ 1,64 miliar, diikuti oleh bahan bakar mineral (HS 27) sebesar US$ 1,46 miliar, serta produk lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) sebesar US$ 0,67 miliar.









