TVRINews – Jakarta
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju di zona hijau pada perdagangan Selasa 1 September 2026 pagi, mengabaikan pelemahan mayoritas bursa regional di tengah bayang-bayang eskalasi geopolitik Timur Tengah dan dinamika kebijakan moneter global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka sesi perdagangan awal bulan, Selasa 1 september 2026, dengan tren positif. Hingga pukul 09.05 WIB, indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut mencatatkan apresiasi sebesar 40,65 poin atau setara dengan penguatan 0,62% ke level 6.566.
Performa impresif ini menempatkan Indonesia pada posisi yang kontras dibandingkan sebagian besar bursa saham di kawasan Asia. Kala pembukaan pagi ini, mayoritas indeks acuan regional kompak tergelincir ke zona merah.
Tekanan jual tampak melanda sejumlah bursa utama seperti KOSDAQ dan KOSPI di Korea Selatan, KLCI Malaysia, Hang Seng Hong Kong, Shanghai Composite, Shenzhen Component, serta CSI 300 di China, hingga NIKKEI 225 di Jepang.
Kendati demikian, IHSG tidak sendirian. Indeks domestik tersebut bergerak seirama dengan beberapa bursa regional lain yang juga berhasil mencatatkan penguatan di zona hijau, di antaranya PSEi Filipina, TW Weighted Index Taiwan, serta Topix Jepang.
Data perdagangan BEI dalam lima menit pertama menunjukkan volume transaksi mencapai 3,45 miliar saham dengan nilai perputaran modal menyentuh Rp1,38 triliun dari 189.806 kali frekuensi transaksi. Secara rinci, sebanyak 330 saham mengerek indeks, 165 saham mengalami koreksi, dan 218 saham lainnya stagnan.
Prospek Teknikal dan Katalis Domestik
Mencermati dinamika pasar hari ini, riset harian BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan bahwa IHSG masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan guna menguji level resistance di posisi 6.550. Secara teknikal, Indeks Komposit dinilai sukses mempertahankan struktur bullish serta bergerak di atas indikator rata-rata pergerakan 20 hari (MA-20) pada level 6.397.
"Apabila indeks mampu melakukan breakout dan bertahan secara stabil di atas level 6.550, maka peluang penguatan lanjutan akan terbuka semakin lebar," tulis tim analis BRI Danareksa dalam ulasan pasarnya.
Dari aspek fundamental, para pelaku pasar kini tengah menanti rilis sejumlah indikator makroekonomi penting domestik. Konsensus pasar memperkirakan tingkat inflasi periode Agustus berada di kisaran 3,13% secara tahunan (year-on-year / yoy) dengan inflasi inti di level 2,80%.
Selain itu, rilis data Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index / PMI) Manufaktur di level 50,5 serta estimasi neraca perdagangan Juli yang mencatatkan defisit sekitar USD 600 juta akan menjadi sorotan utama untuk mengukur ketahanan ekonomi nasional serta arah kebijakan Bank Indonesia ke depan.
Sejumlah saham pilihan yang direkomendasikan oleh BRI Danareksa Sekuritas untuk perdagangan hari ini meliputi WIFI, ESSA, dan DSNG.
Bayang-Bayang Geopolitik Global dan Kebijakan The Fed
Sementara itu, dinamika eksternal turut memberikan warna tersendiri bagi pergerakan pasar keuangan. konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan komoditas energi ini dikhawatirkan dapat kembali mendongkrak laju inflasi global.
Situasi tersebut beririsan dengan sikap bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang mengisyaratkan fokus utama untuk menurunkan inflasi sesuai target.
Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga acuan dalam pertemuan komite moneternya pada bulan September mendatang.
Sentimen negatif dari pelemahan bursa Wall Street akibat eskalasi geopolitik Timur Tengah serta aksi jual lanjutan oleh investor asing diprediksi oleh pasar Global turut membebani pasar. Meskipun demikian, kenaikan harga komoditas energi diharapkan mampu menjadi penopang dan sentimen positif bagi pergerakan IHSG.









