TVRINews – Jakarta
Pasar keuangan menantikan arah kebijakan moneter dan faktor geopolitik yang memengaruhi posisi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin 28 september 2026 di proyeksikan bervariasi di tengah bayang-bayang ketidakpastian pasar global. Pelaku pasar terus memantau dinamika imbal hasil obligasi pemerintah AS, fluktuasi harga minyak mentah dunia, serta sejumlah perkembangan geopolitik strategis.
Berdasarkan data penutupan Jumat 25 september lalu , rupiah di pasar spot tercatat menguat tipis sebesar 0,07 persen atau 13 poin ke level Rp17.903 per dolar AS. Kendati demikian, secara akumulasi mingguan, mata uang Garuda masih mengalami koreksi sebesar 0,82 persen.
Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menempatkan posisi penutupan rupiah di level Rp17.917 per dolar AS, melemah sekitar 0,1 persen dalam perdagangan harian.
Berdasarlkan data pasar global Tekanan utama yang mendera rupiah sepanjang pekan sebelumnya bersumber dari penguatan indeks dolar AS serta lonjakan imbal hasil US Treasury. Laporan media internasional mencatat rupiah sempat menyentuh level pelemahan hingga Rp17.935 per dolar AS menjelang akhir pekan, yang menandai tren koreksi mingguan terdalam sejak akhir Mei lalu.
Perbedaan proyeksi di kalangan para ahli ini mencerminkan tingkat volatilitas yang masih tinggi di pasar keuangan global. Di satu sisi, penurunan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS meredakan tekanan terhadap aset di negara berkembang (emerging market). Namun, di sisi lain, ketahanan indeks dolar AS tetap menjadi variabel risiko yang patut diwaspadai.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur pada 23 September 2026 telah memutuskan untuk mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Kantor berita Reuters melaporkan bahwa otoritas moneter Indonesia memilih untuk mengoptimalkan instrumen stabilisasi berbasis pasar guna meredam tekanan eksternal yang berasal dari volatilitas harga energi global dan kenaikan yield obligasi AS.
Ke depan, para pelaku pasar tetap akan mencerminkan rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat serta eskalasi geopolitik yang dapat menjadi katalis penentu arah kebijakan lanjutan bank sentral AS, The Federal Reserve, terhadap pergerakan dolar global.










