TVRINews - Jakarta
BPS mencatat tren positif produksi jagung nasional meski menghadapi tantangan fluktuasi bulanan di tengah dinamika sektor pertanian.
Sektor pertanian Indonesia menunjukkan ketahanan di tengah dinamika musiman. Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Selasa 1 September 2026, total produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sepanjang periode Januari hingga Oktober 2026 diproyeksikan menyentuh angka 14,25 juta ton.
Capaian tersebut mencatatkan tren positif dengan pertumbuhan sebesar 1,25 persen, atau meningkat sekitar 0,18 juta ton jika dibandingkan dengan perolehan pada kurun waktu yang sama di tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 14,08 juta ton.
Kenaikan volume produksi secara kumulatif ini linier dengan perluasan areal panen. BPS memproyeksikan total luas panen jagung nasional selama sepuluh bulan pertama tahun 2026 mencapai 2,41 juta hektare. Angka ini mengalami pertumbuhan sebesar 0,64 persen atau bertambah 0,02 juta hektare dibandingkan dengan catatan tahun 2025 seluas 2,40 juta hektare.
Kendati demikian, dinamika bulanan menunjukkan adanya koreksi sementara. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan bahwa perolehan produksi pada Juli 2026 mengalami penurunan akibat penyusutan luas panen secara temporal.
"Sejalan dengan gambaran luas panen, untuk produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada kondisi Juli 2026 diperkirakan mencapai 1,38 juta ton, lebih rendah dibandingkan dengan Juli 2025 yang besarnya 1,48 juta ton," ujar Ateng dalam konferensi pers resmi di Jakarta.
Berdasarkan hasil pengamatan Kerangka Sampel Area (KSA), penyusutan produksi pada Juli tersebut dipicu oleh penurunan luas panen sebesar 6,06 persen menjadi 0,23 juta hektare, turun dari posisi 0,25 juta hektare pada bulan yang sama tahun lalu.
Meski demikian, prospek industri hulu pangan ini diproyeksikan kembali menguat pada kuartal berikutnya. Memasuki periode Agustus hingga Oktober 2026, potensi luas panen nasional diperkirakan meluas hingga 0,68 juta hektare, atau tumbuh 4,03 persen dibanding periode serupa tahun sebelumnya.
Kenaikan proyeksi areal panen tersebut diyakini mampu mendongkrak volume produksi periode Agustus-Oktober 2026 hingga mencapai 4,17 juta ton. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 3,22 persen secara tahunan dari capaian tahun sebelumnya yang berada di level 4,04 juta ton.
Dalam pandangan lembaga statistik negara, proyeksi lanjutan tersebut masih bersifat dinamis dan sangat bergantung pada kondisi di tingkat petani. Ateng mengingatkan bahwa angka estimasi potensi luas panen juga mencakup komoditas jagung yang dimanfaatkan di luar bentuk pipilan kering.
"Potensi luas panen ini sudah termasuk tanaman jagung yang akan dipanen bukan untuk dipipil. Misalnya yang dipanen muda atau dipanen untuk hijauan pakan ternak," jelasnya.
Lebih lanjut, BPS menekankan bahwa realisasi akhir dari angka-angka proyeksi tersebut tetap terbuka terhadap faktor risiko eksternal, termasuk potensi gangguan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) serta pergeseran siklus musim panen di berbagai wilayah sentra produksi.









