TVRINews – Jakarta
Ketahanan domestik dan hilirisasi industri menjadi pilar utama di tengah ketidakpastian ekonomi global
Perekonomian Indonesia mencatatkan performa impresif pada triwulan pertama tahun 2026 dengan pertumbuhan sebesar 5,61% secara year-on-year. Capaian ini menempatkan Indonesia di posisi unggul dibandingkan mayoritas negara anggota G20, sekaligus menegaskan resiliensi nasional di tengah fluktuasi pasar global.
Pertumbuhan yang bersifat luas (broad-based) ini didorong oleh kuatnya konsumsi pemerintah, permintaan rumah tangga yang tetap tangguh, serta keberlanjutan arus investasi. Hingga periode Juni 2026, indikator makroekonomi menunjukkan fondasi yang kokoh, dengan inflasi terjaga di angka 3,08% dan cadangan devisa mencapai USD144,9 miliar.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam acara Bisnis Indonesia Economic Insights 2026 di Jakarta, menekankan bahwa indikator ekonomi nasional saat ini mencerminkan stabilitas yang sehat.

(Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto (di podium), dalam acara Bisnis Indonesia Economic Insights 2026 di Jakarta Rabu 24 Juni 2026) )
"Seluruh indikator ini menegaskan bahwa perekonomian Indonesia berdiri di atas fondasi yang sehat, resilien, dan siap melanjutkan momentum pertumbuhan. Namun, kita tetap harus menggenjot sektor-sektor yang menghasilkan devisa, misalnya sektor pariwisata," ujar Airlangga dikutip Kamis 25 Juni 2026.
Data menunjukkan transformasi ekonomi kini lebih merata hingga ke luar Pulau Jawa. Wilayah Sulawesi mencatatkan pertumbuhan 6,95%, sementara Bali dan Nusa Tenggara melaju hingga 7,93%. Airlangga menambahkan bahwa keberhasilan hilirisasi minerba di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) memberikan kontribusi signifikan dengan efisiensi modal yang lebih baik dibandingkan rata-rata nasional.
Menghadapi volatilitas pasar pada Mei hingga Juni 2026, di mana nilai tukar Rupiah sempat tertekan, pemerintah merespons cepat melalui kebijakan moneter dan fiskal yang terukur. Penyesuaian BI Rate ke level 5,75% serta intervensi pasar terbukti efektif memulihkan nilai tukar ke kisaran Rp17.794 per USD dan mengembalikan posisi IHSG ke level 6.177.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan di semester II-2026, pemerintah meluncurkan paket stimulus komprehensif. Kebijakan ini mencakup insentif fiskal bagi dunia usaha, dukungan sektor transportasi, hingga jaring pengaman sosial senilai Rp17,54 triliun bagi 33,24 juta keluarga penerima manfaat. Selain itu, pemerintah mengalokasikan anggaran untuk program magang dan vokasi guna menyerap tenaga kerja muda.
Di panggung internasional, Indonesia terus memperluas akses pasar melalui berbagai perjanjian kemitraan ekonomi, termasuk aksesi ke OECD dan CP-TPP. Langkah strategis juga dilakukan pada sektor teknologi melalui kemitraan semikonduktor dengan Amerika Serikat dan Inggris.
"Pemerintah mendorong hilirisasi dalam industri semikonduktor supaya melengkapi target industri kendaraan listrik, sistem penyimpanan baterai, serta pengembangan teknologi IoT hingga kecerdasan buatan," jelas Airlangga.
Dengan proyeksi kebutuhan sembilan juta talenta digital pada tahun 2030, pemerintah berkomitmen memperkuat ekosistem teknologi lokal. Airlangga menutup pemaparannya dengan optimisme bahwa di tengah krisis dan ketidakpastian, selalu terdapat peluang strategis yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat resiliensi ekonomi nasional.










