TVRINews – Jakarta
Tren penurunan harga komoditas cabai memberikan napas lega bagi rumah tangga, di tengah kenaikan tipis harga daging sapi dan minyak goreng pada perdagangan hari ini
Pasar domestik Indonesia mencatat dinamika harga pangan yang kontras hari ini kamis 25 Juni 2026. Data terbaru dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) menunjukkan koreksi tajam pada kelompok komoditas cabai, yang selama beberapa pekan terakhir menjadi penyumbang utama tekanan inflasi pangan.
Cabai rawit merah mencatatkan penurunan terdalam sebesar 8,81 persen, bertengger di angka Rp70.400 per kilogram.
Tren serupa juga menyelimuti varietas lain; cabai merah besar terkoreksi 6,94 persen menjadi Rp54.300 per kilogram, serta cabai merah keriting yang turun 4,88 persen ke posisi Rp53.600 per kilogram.
Penurunan harga ini memberikan sinyal positif bagi daya beli masyarakat, khususnya bagi sektor kuliner yang sangat bergantung pada stabilitas harga komoditas bumbu dapur tersebut.
Di sisi lain, pasar protein hewani menunjukkan pergerakan yang berlawanan. Harga daging sapi tercatat merangkak naik, dengan kualitas 2 meningkat 1 persen menjadi Rp140.900 per kilogram. Sebaliknya, pasokan daging ayam ras dan telur ayam justru menunjukkan efisiensi harga dengan penurunan tipis, masing-masing berada di level Rp37.150 dan Rp29.750 per kilogram.
"Pergerakan harga hari ini mencerminkan keseimbangan baru di pasar, di mana komoditas yang sebelumnya mengalami volatilitas tinggi kini mulai terkoreksi menuju level yang lebih stabil," catat laporan pemantauan harga harian PIHPSN.
Sementara itu, sektor komoditas strategis lainnya seperti beras relatif menunjukkan stabilitas harga. Beras kualitas bawah I bertahan di angka Rp14.650 per kilogram, menandakan pasokan yang terjaga di tingkat pengecer.
Untuk kategori minyak goreng dan gula, fluktuasi harga masih berada dalam rentang kendali yang tipis, dengan minyak goreng curah mencatat kenaikan moderat sebesar 0,49 persen menjadi Rp20.700 per kilogram.
Data yang dihimpun pada pukul 08.00 WIB ini menjadi indikator penting bagi para pengambil kebijakan dalam memantau stabilitas ekonomi rumah tangga di Indonesia menjelang akhir Juni 2026. Dengan melandainya harga cabai, ekspektasi terhadap tekanan inflasi bulanan diharapkan dapat lebih terjaga.










