TVRINews – Jakarta
Rupiah Melemah ke Rp17.965, Pasar Antisipasi Kebijakan The Fed
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan kinerja negatif pada pembukaan perdagangan Kamis 25 Juni 2026. Mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 0,12% ke level Rp17.965 per dolar AS, seiring dengan menguatnya indeks dolar global.
Tekanan terhadap rupiah didorong oleh sentimen pengetatan kebijakan moneter di AS. Pasar kini tengah mencermati sinyal kuat dari Federal Reserve (The Fed) yang diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan (Federal Fund Rate/FFR) sebesar 50 basis poin (bps) dalam dua tahap hingga akhir tahun. Langkah ini diambil bank sentral AS demi menjangkar inflasi domestik agar kembali ke target sasaran.
“Pasar bereaksi terhadap narasi hawkish dari The Fed. Antisipasi kenaikan suku bunga lanjutan membuat dolar AS kembali menjadi instrumen safe haven yang paling diburu saat ini,” rilis The Fed.
Kontras dengan Mata Uang Regional
Di tengah penguatan dolar AS, dinamika mata uang di Asia terlihat sangat kontras. Sementara rupiah, won Korea Selatan, dan dolar Taiwan berada dalam zona merah, sejumlah mata uang kawasan justru menguat. Ringgit Malaysia tercatat memimpin penguatan sebesar 0,52%, didorong oleh aliran masuk investasi asing langsung (Foreign Direct Investment) yang melonjak hingga 42,1%.
Data perdagangan menunjukkan sentimen yang serupa juga dirasakan oleh peso Filipina, yen Jepang, baht Thailand, dan dolar Singapura yang berhasil bertahan di zona hijau.
Beban Ganda dari Sentimen Domestik
Selain faktor eksternal, rupiah juga menghadapi tantangan berat dari dalam negeri. Keputusan MSCI untuk menunda klasifikasi pasar saham Indonesia memicu aksi jual investor di pasar modal. Ketidakpastian ini berdampak langsung pada profil risiko negara yang tercermin dari melonjaknya Credit Default Swap (CDS).
Berdasarkan data Bloomberg Internasional Finance, CDS tenor lima tahun Indonesia tercatat naik ke level 91,31, meningkat signifikan dari posisi 86,95 pada 17 Juni lalu. Sebagai instrumen keuangan yang merefleksikan persepsi risiko secara real-time, kenaikan CDS ini mengindikasikan kekhawatiran pelaku pasar terhadap kebutuhan arus modal asing di tengah kondisi ekonomi domestik yang menantang.
Ekonom menyoroti bahwa pergerakan CDS seringkali menjadi indikator lebih cepat dibandingkan peringkat kredit formal dari lembaga pemeringkat internasional. Peningkatan risiko ini menunjukkan bahwa investor menuntut premi yang lebih tinggi untuk memegang surat utang negara di tengah ketidakpastian arus modal.
Dengan posisi yang kini berada di ambang Rp18.000, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada respons otoritas moneter domestik dalam menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak melampaui batas psikologis, terutama saat ekspektasi inflasi global tetap tinggi.










