TVRINews, Jakarta
Upaya hilirisasi komoditas unggulan daerah dan penguatan ekonomi berbasis koperasi terus didorong pemerintah. Koperasi Produsen Syariah Gambir Anam Koto Mandiri dari Sumatera Barat resmi menjalin kerja sama dengan Holding Pangan BUMN, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID FOOD, untuk mengembangkan ekspor komoditas gambir ke pasar internasional.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Kantor Kementerian Koperasi (Kemenkop), Jakarta. Kesepakatan ini membuka peluang ekspor gambir ke India dan Pakistan dengan estimasi nilai transaksi mencapai USD732.831 atau sekitar Rp11,72 miliar. Adapun target pengiriman ditetapkan sebanyak 20 ton per bulan.
Deputi Bidang Pengembangan Talenta dan Daya Saing Koperasi Kemenkop, Destry Anna Sari, menegaskan bahwa kerja sama tersebut harus segera diwujudkan dalam bentuk transaksi bisnis yang nyata.
"Saya berharap sebelum 3 bulan langsung terjadi transaksi kontrak bisnis dan barang sudah dikirim dalam bentuk hilirisasi,"kata Destry dalam keterangan yang diterima tvrinews, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurutnya, kolaborasi antara koperasi dan BUMN tidak boleh berhenti pada tahap penandatanganan kerja sama semata, melainkan harus menghasilkan manfaat langsung bagi petani dan pelaku usaha di daerah.
Destry juga mengingatkan pentingnya menjaga konsistensi pasokan dan kualitas produk, terutama ketika permintaan pasar meningkat. Untuk itu, pemerintah akan mendorong penerapan standar internasional, termasuk sertifikasi keamanan pangan, guna meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Selain itu, ia berharap regulasi perdagangan dapat memberikan perlindungan bagi petani dan koperasi agar pembeli dari luar negeri tidak langsung membeli bahan baku di tingkat desa yang berpotensi memengaruhi stabilitas harga di tingkat lokal.
Sementara itu, Direktur Komersial ID FOOD, Dwi Sutoro, menyatakan pihaknya siap mendukung percepatan ekspor komoditas unggulan daerah melalui jaringan usaha yang dimiliki perusahaan, termasuk PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI).
Ia menjelaskan terdapat tiga faktor utama yang menjadi kunci keberhasilan ekspor, yakni keberlanjutan pasokan, konsistensi mutu produk, dan daya saing harga di pasar internasional.
“Ke depan, ID FOOD akan mengoptimalkan kantor-kantor cabangnya di seluruh Indonesia untuk bertindak sebagai sourcing development, yang mengidentifikasi produk unggulan daerah yang siap dibawa ke pasar internasional,”ungkap Dwi.
Menurut Dwi, langkah tersebut sejalan dengan transformasi bisnis ID FOOD yang kini fokus pada sektor perdagangan dan distribusi guna memperluas akses pasar bagi produk-produk dalam negeri.
Di sisi lain, Ketua Koperasi Produsen Syariah Gambir Anam Koto Mandiri, Eriyanto, menyambut baik kerja sama tersebut. Ia menilai kemitraan dengan ID FOOD akan memberikan kepastian pasar sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas gambir yang dihasilkan petani.
Koperasi yang berdiri sejak 2021 itu saat ini menghimpun sekitar 190 petani gambir dan delapan kelompok tani dengan luas lahan mencapai 450 hektare. Kapasitas produksi koperasi berkisar antara 30 hingga 50 ton per bulan.
"Bagi kami, MoU ini adalah langkah strategis untuk memberikan kepastian pasar dan harga bagi para petani gambir di Sumatera Barat, meningkatkan mutu ekspor, serta menguatkan hilirisasi komoditas gambir melalui sinergi koperasi dan BUMN,"ujar Eriyanto.
Ia menegaskan koperasi akan menjaga kontinuitas pasokan serta menerapkan tata kelola yang profesional dan transparan agar komoditas gambir Indonesia semakin kompetitif dan mampu memperluas pangsa pasar di tingkat global.
Kerja sama ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara koperasi dan BUMN dalam memperkuat hilirisasi komoditas lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui akses pasar ekspor yang lebih luas.










