TVRINews – Jakarta
Eskalasi Retorika AS-Iran Memicu Lonjakan Harga Minyak dan Tekanan Jual di Pasar Global
Pasar saham di kawasan Asia Pasifik mengawali pekan ketiga Mei 2026 dengan pergerakan di zona merah.
Pelemahan ini melanjutkan tren koreksi yang terjadi di bursa utama Wall Street dan Eropa pada akhir pekan lalu, seiring dengan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Sentimen pasar kembali tertekan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan peringatan keras kepada Iran melalui platform Truth Social.
Trump menegaskan bahwa waktu bagi Teheran kian menipis dan mengisyaratkan konsekuensi berat jika tindakan tidak segera diambil.
Kondisi ini memicu kekhawatiran baru akan potensi gangguan pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz masih ditutup oleh Iran di tengah blokade pelabuhan oleh AS yang terus berlanjut.
Akibat ketegangan tersebut, harga minyak mentah langsung melesat di atas 1% pada perdagangan Senin 18 Mei 2026 pagi.
Minyak mentah Brent untuk kontrak Juli naik 1,34% ke posisi USD110,72 per barel, sementara varian West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni melonjak 1,75% menjadi USD107,26 per barel.
Koreksi Massal Indeks Acuan Asia
Kenaikan harga komoditas energi ini memicu kekhawatiran inflasi global yang berujung pada aksi jual aset portofolio di Asia. Berdasarkan data pasar pada pukul 08.10 WIB, senin 18 Mei kejatuhan terdalam dipimpin oleh bursa Korea Selatan dan Australia:
• Kospi (Korea Selatan): Terperosok 2,24% ke level 7.325,51.
• ASX 200 (Australia): Melorot 1,09% dan berada di posisi 8.537,10.
• Nikkei 225 (Jepang): Melemah 0,52% ke level 61.092,02.
• Hang Seng (Hong Kong): Kontrak berjangka bergerak melemah di posisi 25.733 dibandingkan penutupan sebelumnya.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah Jepang tenor 10 tahun melonjak hingga 8 basis poin ke level 2,785%. Pergerakan ini mencerminkan ekspektasi investor terhadap tekanan inflasi yang diadopsi dari tren kenaikan yield US Treasury di Amerika Serikat.
IHSG Berpotensi Uji Batas Krusial
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan belum mampu keluar dari tekanan bearish short-term pada perdagangan hari ini.
Tekanan eksternal berpadu dengan volatilitas domestik, termasuk kelanjutan aksi jual oleh investor asing pasca-agenda rebalancing indeks MSCI pekan lalu.
Sebagai indikator awal, instrumen iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) di New York Stock Exchange ditutup anjlok 1,43% ke level USD14,12 pada akhir pekan. Pada perdagangan sebelumnya, Rabu (13/5), IHSG sendiri telah terkoreksi tajam hingga 1,98% ke posisi 6.723,32.
Analis dari Indo Premier, menilai kombinasi antara harga minyak mentah yang bertahan tinggi, penguatan indeks dolar AS (DXY) ke level 99,27, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati rekor terendah baru di posisi Rp17.597 per dolar AS, menjadi faktor utama pemicu perilaku menghindari risiko (risk-off) dari para pelaku pasar.
"Secara teknikal, indikator pergerakan jangka pendek menunjukkan momentum penurunan yang masih kuat. Batas rata-rata pergerakan 10 tahun di level 6.366 kini menjadi area krusial bagi arah jangka panjang pasar saham Indonesia," tulis tim riset Indo Premier dalam ulasannya yang dikutip AFP Ekonomi.
Secara jangka pendek, indeks diproyeksikan akan menguji rentang target dukungan (support) pada kisaran 6.700 hingga 6.650, dengan target pembalikan arah (resistance) terdekat di level 6.800.
Refleksi Pasar Global: Wall Street dan Eropa
Kejatuhan di pasar Asia pagi ini merupakan respons langsung terhadap penutupan kelam pasar global akhir pekan lalu.
Di New York, bursa Wall Street tertekan hebat setelah pasar menilai reli saham berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI) sudah terlalu tinggi dan tidak sejalan dengan fundamental saat ini.
Sektor semikonduktor memimpin kejatuhan dengan penurunan tajam pada saham Nvidia dan AMD, meskipun sektor energi berhasil menguat 2,3% memanfaatkan momentum kenaikan komoditas.
Di saat yang sama, akhir pekan lalu juga menandai berakhirnya masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua Federal Reserve. Ketidakpastian transisi kepemimpinan ini, bersamaan dengan ancaman inflasi energi, mendorong probabilitas pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan pada Desember mendatang meningkat hingga mendekati 40%.
• Dow Jones: Turun 1,07% ke posisi 49.526,17.
• S&P 500: Merosot 1,24% ke posisi 7.408,50.
• Nasdaq: Anjlok 1,54% ke level 26.225,14.
Sementara itu dari Eropa, indeks STOXX 600 turun 1,5% dipimpin oleh jatuhnya sektor material dan perbankan.
Para pelaku pasar di Benua Biru khawatir lonjakan harga energi akibat ketegangan Washington-Teheran akan memaksa Bank Sentral Eropa (ECB) mengambil kebijakan moneter yang jauh lebih agresif demi meredam inflasi.










