TVRINews, Jakarta
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut Indonesia mulai memperkuat pasar ekspor pupuk nasional dengan mengirim pupuk urea ke Australia melalui skema kerja sama antarpemerintah atau government-to-government (G2G). Nilai total ekspor yang disiapkan diperkirakan mencapai Rp7 triliun.
Pengiriman perdana dilakukan melalui Pelabuhan Bontang, Kalimantan Timur, pada 14 Mei 2026 dengan volume awal mencapai 47.250 ton pupuk urea senilai sekitar Rp600 miliar. Produk tersebut diproduksi oleh PT Pupuk Kalimantan Timur yang berada di bawah naungan PT Pupuk Indonesia (Persero).
Menteri Amran mengatakan pemerintah menargetkan volume ekspor ke Australia akan terus bertambah secara bertahap hingga mencapai 500 ribu ton.
“Ekspor ini akan dilakukan bertahap. Target awal sekitar 250 ribu ton dan nantinya ditingkatkan menjadi 500 ribu ton,” kata Amran dalam keterangannya, Minggu, 17 Mei 2026.
Menurutnya, tingginya minat sejumlah negara terhadap pupuk urea Indonesia menunjukkan daya saing industri pupuk nasional semakin kuat di pasar internasional. Selain Australia, pemerintah juga mulai menjajaki perluasan pasar ke sejumlah negara lain seperti India, Filipina, Brasil, dan Bangladesh.
“Beberapa negara sudah menyampaikan minat untuk membeli pupuk dari Indonesia. Ini tentu menjadi kebanggaan sekaligus peluang besar bagi industri pupuk nasional,” ujarnya.
Amran menilai peningkatan kapasitas ekspor tidak terlepas dari berbagai pembenahan tata kelola pupuk nasional yang dilakukan pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto. Salah satunya melalui peningkatan alokasi pupuk bersubsidi menjadi 9,55 juta ton untuk mendukung sektor pertanian dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Pemerintah juga melakukan penyederhanaan distribusi pupuk melalui deregulasi lintas kementerian serta revitalisasi industri pupuk nasional. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperkuat kapasitas industri dalam memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor.
“Di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu, Indonesia justru mampu menjaga pasokan pupuk, meningkatkan volume produksi, bahkan memperluas pasar ekspor,” kata Amran.
Selain memperkuat ekspor pupuk, pemerintah juga tengah mendorong pengembangan industri petrokimia dan methanol nasional di beberapa wilayah, termasuk Aceh dan Bontang, guna mengurangi ketergantungan impor bahan baku industri dalam negeri.










