TVRINews, Tuban
Perum Bulog memperkuat perannya dalam mendukung swasembada pangan nasional berkelanjutan melalui penyerapan hasil Panen Raya Jagung Kuartal II di Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
Kegiatan yang diinisiasi Kepolisian Negara Republik Indonesia itu menjadi bagian dari rangkaian Panen Raya Jagung Kuartal II, groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan, serta peluncuran operasional 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri yang dilaksanakan serentak oleh jajaran Polda dan Polres di seluruh Indonesia bersama pemerintah daerah.
Dalam ekosistem jagung nasional, Bulog hadir sebagai offtaker strategis melalui penyerapan jagung pipil kering hasil panen petani.
Melalui sinergi dengan Polri, petani mendapatkan kepastian penyerapan dengan harga Rp6.400 per kilogram di gudang Bulog.
Skema tersebut dinilai menjadi bentuk intervensi negara dalam menjaga stabilitas harga di tingkat produsen, sekaligus memastikan hasil produksi petani masuk ke rantai pasok pangan nasional secara lebih terstruktur.
Presiden RI Prabowo Subianto dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi Polri dalam mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya pada komoditas jagung.
“Saya memiliki kedekatan dengan dunia pertanian, baik saat memimpin HKTI maupun ketika masih aktif di TNI. Banyak kenangan saat berinteraksi langsung dengan masyarakat desa petani. Itu semakin menegaskan pentingnya petani sebagai pilar utama membangun kedaulatan pangan nasional,” ujar Presiden Prabowo yang dikutip tvrinews.com, Minggu, 17 Mei 2026.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan Bulog menargetkan penyerapan 200 ton jagung dari panen raya di Tuban. Secara nasional, total penyerapan jagung Bulog saat ini hampir mencapai 200 ribu ton.
Untuk mendukung penyerapan tersebut, Bulog telah menyiapkan gudang khusus penyimpanan jagung dengan kapasitas hampir 350 ribu ton. Infrastruktur ini akan diperkuat melalui sinergi dengan pembangunan gudang ketahanan pangan oleh Polri.
“Hasil serapan jagung tersebut akan disalurkan kembali melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Jagung dengan total saluran 242 ribu ton hingga 31 Desember 2026 untuk 5.541 peternak dengan populasi unggas sekitar 53 juta ekor,” ucap Rizal.
Ia menjelaskan penyaluran SPHP Jagung menjadi instrumen penting untuk menjaga keterjangkauan harga pakan, terutama bagi peternak ayam ras petelur.
Dengan skema ini, Bulog tidak hanya menyerap hasil panen petani, tetapi juga menjaga keberlanjutan sektor peternakan sebagai bagian dari rantai pangan nasional.
Sinergi antara Bulog dan Polri dinilai menjadi langkah konkret memperkuat ekosistem pangan nasional dari hulu hingga hilir.
Di tingkat petani, kepastian serapan menjaga stabilitas harga. Sementara di tingkat peternak, ketersediaan jagung pakan tetap terjaga melalui distribusi terukur.
Bulog menegaskan komitmennya menjaga stabilisasi harga dari dua sisi sekaligus, yakni melindungi petani sebagai produsen dan menjaga keterjangkauan pasokan bagi peternak sebagai konsumen.
Melalui penyerapan dan distribusi yang terukur, Bulog menargetkan stabilitas pasokan dan harga jagung nasional tetap terjaga, sekaligus memperkuat cadangan pangan pemerintah demi mewujudkan swasembada pangan secara berkelanjutan.










