TVRINews – Jakarta
Kementerian Pertanian kembangkan kawasan sentra produksi agrikultur terintegrasi dengan melibatkan peran serta swasta dan masyarakat.
Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis dalam mengamankan masa depan pasokan energi domestik. Melalui Kementerian Pertanian, negara menyiapkan alokasi lahan seluas hingga dua juta hektare yang difokuskan untuk menggenjot produksi bahan bakar nabati.
Inisiatif besar ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus membangun fondasi ekonomi hijau yang berkelanjutan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa proyeksi pemenuhan bahan bakar ini bertumpu pada tiga komoditas utama nasional, yaitu tebu, ubi kayu, dan jagung.

(Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. [Foto: Kementan RI])
"Negara menyiapkan pengembangan area hingga dua juta hektare sebagai fondasi pembangunan industri bioetanol nasional, sekaligus langkah memperkuat kemandirian energi," ujar Amran, dikutip Selasa, 22 september 2026.
Pendekatan yang diterapkan pemerintah berfokus pada integrasi hulu dan hilir. Menurut Amran, pendirian pabrik pengolahan harus berjalan berdampingan dengan kepastian pasokan bahan baku dari kawasan pertanian berskala masif.
Sinergi Lintas Sektor dan Keterlibatan Publik
Guna merealisasikan target ambisius tersebut, pemerintah menggalang kolaborasi erat antara badan usaha milik negara dan pihak swasta. Skema pembiayaan dirancang secara terukur, di mana porsi investasi dibagi untuk menarik minat modal ventura sambil memastikan kontrol negara tetap terjaga pada sektor harian.
Selain aspek bisnis, regulasi baru ini mewajibkan adanya partisipasi langsung dari masyarakat lokal dan pengusaha daerah. Kebijakan ini diterapkan guna mencegah monopoli korporasi besar sekaligus meratakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa.
"Pemberdayaan masyarakat harus menjadi prioritas dengan porsi keterlibatan minimal tiga puluh persen, sehingga pertumbuhan ekonomi dirasakan langsung oleh rakyat," tambah Amran.
Tahap Percontohan dan Mitigasi Lingkungan
Sebagai langkah awal, Kementerian Pertanian mulai memetakan daerah-daerah sentra produksi yang siap mengimplementasikan program konversi komoditas. Dukungan berupa alat dan mesin pertanian modern juga dikerahkan guna mendongkrak produktivitas hasil panen di tingkat petani.
Kendati demikian, implementasi proyek skala luas ini tetap memperhatikan aspek kelestarian lingkungan. Pemerintah memastikan bahwa pemetaan lahan dilakukan secara selektif melalui kajian ekologis yang ketat, termasuk optimalisasi kawasan agroforestri sebelum mempertimbangkan opsi pelepasan status kawasan hutan demi menjaga keseimbangan ekosistem.










