TVRINews – Singapura
Konflik Iran Belum Usai, Investor Timbang Sinyal Kontradiktif dari Washington
Bursa saham Asia diperkirakan bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis 28 Mei 2026, sementara harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik.
Pergerakan ini dipicu oleh sikap kehati-hatian investor yang tengah menimbang berbagai sinyal kontradiktif terkait prospek kesepakatan damai di Timur Tengah dan pemulihan jalur energi di Selat Hormuz.
Kontrak berjangka (futures) indeks saham mengindikasikan penurunan tipis saat pembukaan pasar di Hong Kong dan Australia, meski kontrak berjangka Jepang terpantau bergerak melawan arus dan menguat.
Sementara itu, kontrak berjangka bursa Amerika Serikat (AS) cenderung stagnan setelah indeks S&P 500 ditutup mendatar menyusul sesi perdagangan yang fluktuatif semalam.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS kembali bangkit. Pemulihan ini terjadi setelah harga emas hitam tersebut sempat anjlok lebih dari 5 persen pada perdagangan Rabu (27/5) waktu setempat.
Pernyataan Trump Goyah Sentimen Pasar
Sentimen pasar yang sempat optimistis kembali goyah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dirinya "belum puas" dengan hasil negosiasi bersama Iran.
Pernyataan tersebut langsung meredam ekspektasi pelaku pasar akan adanya terobosan diplomatik dalam waktu dekat untuk mengakhiri konflik yang kini telah memasuki bulan keempat.
Gedung Putih juga membantah keras laporan media Iran mengenai draf kesepakatan sementara yang mengeklaim lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat normal kembali dalam waktu sebulan setelah perjanjian ditandatangani.
Trump menegaskan bahwa tidak boleh ada satu negara pun yang mengendalikan jalur pelayaran vital tersebut, sekaligus menggarisbawahi isu utama dalam penyelesaian konflik ini. Meski demikian,
Washington belum merinci langkah konkret untuk menjamin kebebasan lintas kapal dan cenderung mengecilkan peluang pelonggaran sanksi ekonomi bagi Teheran.
Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi distribusi energi global, di mana sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi kawasan tersebut setiap harinya.
"Pembeli panik sudah mulai hilang, dan pasar mulai menyadari bahwa kita sebenarnya tidak akan kehabisan minyak," ujar Dennis Kissler, Senior Vice President Trading di BOK Financial Securities Inc.
Namun, Kissler memberikan catatan mengenai risiko ke depan. "Situasi ini bisa berubah jika kapal pengangkut minyak besar diserang di selat tersebut, tetapi saya yakin Iran dan AS kini sama-sama menginginkan kesepakatan."
Optimisme Wall Street dan Tekanan Inflasi
Meskipun negosiasi berjalan alot, beberapa pejabat tinggi AS mengindikasikan bahwa komunikasi terus berjalan intensif. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa perkembangan material akan terlihat dalam waktu dekat.
"Kita akan melihat dalam beberapa jam dan hari ke depan apakah kemajuan dapat dicapai," kata Rubio, seraya menambahkan bahwa Utusan Khusus AS Steve Witkoff, Jared Kushner, dan Wakil Presiden JD Vance terlibat sangat aktif dalam proses tersebut.
Sikap optimistis juga masih membayangi pelaku pasar ekuitas global. Alexander Guiliano dari Resonate Wealth Partners menilai pasar masih memiliki keyakinan terhadap solusi jangka panjang.
"Pasar saham memiliki keyakinan yang cukup bahwa solusi dengan Iran pada akhirnya akan tercapai, meskipun tidak dalam waktu dekat," kata Guiliano. "Walaupun terlihat saham telah naik terlalu cepat, kita baru saja mengalami koreksi normal dua bulan lalu yang membantu memperbaiki sentimen pasar."
Merespons musim laporan keuangan kuartal pertama yang kuat, Goldman Sachs Group Inc. bahkan menaikkan target akhir tahun untuk indeks S&P 500 menjadi 8.000 poin dari sebelumnya 7.600 poin. Proyeksi ini sejalan dengan pandangan institusi finansial besar lainnya seperti Morgan Stanley dan Deutsche Bank AG.
Di sisi lain, pasar obligasi menunjukkan kewaspadaan terhadap risiko inflasi yang berkepanjangan jika konflik urung mereda. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun sempat turun ke level 4,98 persen sebelum akhirnya kembali ke kisaran 5,01 persen.
Ketidakpastian di Timur Tengah memicu kekhawatiran bahwa gangguan pasokan energi dapat kembali menekan inflasi, yang pada gilirannya berpotensi memaksa bank sentral global, termasuk Federal Reserve, untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga acuan.
"Investor dan trader saat ini menunggu sesuatu yang konkret dari AS dan Iran yang menandakan konflik benar-benar akan berakhir," ujar Jack McIntyre, Portfolio Manager di Brandywine Global Investment Management, menyoroti korelasi antara penguatan obligasi Treasury dan penurunan harga minyak baru-baru ini.










