TVRINews – Jakarta
Konflik geopolitik dan beban fiskal menekan mata uang Indonesia ke level Rp17.856 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami koreksi tajam hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah (all-time low) pada perdagangan Kamis pagi 28 Mei 2026.
Berdasarkan data Bank Indonesia pukul 09.42 WIB, mata uang Garuda melemah 55 poin atau sekitar 0,31 persen ke posisi Rp17.856 per dolar AS.
Tren penurunan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik antara AS dan Iran, serta kekhawatiran pasar terhadap postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Merespons perkembangan tersebut, Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa pelemahan kurs saat ini tidak mencerminkan realitas fundamental ekonomi domestik yang diklaim tetap kokoh.
"Ekonomi kita bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini sebenarnya tidak masuk akal. Biasanya (rupiah) melemah jika ada gangguan pada fundamental," kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dilaman resmi kemenkeu RI yang dikutip kamis 28 mei 2026.
Kendati tekanan eksternal meningkat, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah belum melihat adanya urgensi untuk melakukan uji stres (stress test) ulang terhadap APBN.
Menurutnya, Kementerian Keuangan telah mengantisipasi skenario pemburukan nilai tukar melalui simulasi risiko terdahulu, termasuk mengukur dampak kenaikan harga minyak mentah global hingga level 100-102 dolar AS per barel.
"Kami sudah menghitungnya. Pada waktu simulasi [minyak global], asumsi pergerakan rupiah sudah ikut diperhitungkan. Jadi tidak ada masalah, saya tidak harus menghitung ulang APBN," ujar Purbaya.
Stabilisasi Pasar Obligasi
Guna meredam volatilitas, pemerintah mengoptimalkan intervensi di pasar surat utang negara. Strategi pembelian kembali (buyback) obligasi dilakukan secara terukur demi menjaga imbal hasil (yield) tetap kompetitif dan memikat aliran modal asing.
Purbaya menjelaskan bahwa meskipun rupiah tertekan, pertumbuhan yield obligasi pemerintah justru menunjukkan tren penurunan yang relatif terkendali berkat langkah stabilisasi dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan.
"Selama pasar obligasi terkendali, minat investor asing untuk menempatkan dana pada aset domestik akan tetap terjaga. Saat ini, kami sudah mulai melihat aliran modal asing kembali masuk," tuturnya.
Sebagai langkah antisipasi jangka pendek, pemerintah mengonfirmasi sedang merumuskan kebijakan lanjutan bersama otoritas terkait. "Ke depan, akan ada tindakan terintegrasi dari pemerintah yang diproyeksikan mampu menguatkan kembali nilai tukar rupiah secara signifikan," pungkas Purbaya.










