TVRINews, Jakarta
Seniman, Naufal Abshar menilai perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia membuka peluang yang semakin luas bagi para pelaku seni untuk berkembang dan memperkenalkan karya mereka kepada masyarakat.
Menurut Naufal, kemajuan digitalisasi dan media sosial memberikan ruang yang lebih besar bagi seniman, untuk membangun eksistensi hingga meraih kesuksesan.
"Sekarang era digitalisasi dan sosial media itu sangat leluasa ya. Jadi kemungkinan untuk suksesnya bisa lebih besar," ujar Naufal kepada wartawan termasuk tvrinews.com usai kegiatan Artist Talk di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Meski demikian, Naufal menyebut perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan bagi seniman. Banyaknya informasi dan distraksi di media sosial membuat seniman harus mampu mempertahankan fokus di tengah persaingan yang semakin ketat.
"Downside-nya adalah banyaknya informasi dan banyaknya distraksi itu juga membuat kita sebagai seniman tersendiri kesulitan. Dan banyaknya juga bisa dibilang kompetitor," ucapnya.
Di sisi lain, Naufal melihat ekosistem ekonomi kreatif, khususnya seni, di Indonesia terus berkembang. Hal itu terlihat dari semakin terbukanya masyarakat terhadap karya seni, termasuk meningkatnya perhatian dari brand dan kolektor yang mulai menghargai serta mengoleksi karya para seniman.
Maka dari itu, Naufal berharap perkembangan tersebut dapat terus diperkuat melalui dukungan pemerintah terhadap para pelaku seni. Ia menilai dukungan diperlukan mengingat seniman umumnya bekerja sebagai pekerja bebas dengan sejumlah tantangan, mulai dari biaya perlengkapan seni hingga beban pajak.
"Seniman ini kan kita pekerja bebas, kita kena pajaknya lumayan luar biasa. Banyak seniman sekarang mau beli alat lukis sudah mahal, apa-apa sudah mahal, terus sudah dipotong pajak dan segala macam," ungkapnya.
Selain dukungan dari sisi ekonomi, Naufal berharap pemerintah dan berbagai pihak semakin banyak menghadirkan pameran serta program seni yang dapat memperkenalkan seni kepada generasi muda.
Menurutnya, penguatan edukasi dan apresiasi seni sejak dini penting agar generasi muda semakin memahami dan menghargai karya seni sekaligus mendorong keberlanjutan ekosistem ekonomi kreatif Indonesia.
Sebagai informasi, pameran Art for Peace and a Better Future: Collaboration merupakan kolaborasi SBY Art Community bersama sejumlah institusi seni, yakni ISI Yogyakarta, ISI Solo, ITB, dan IKJ, serta seniman internasional Christopher Lehmpfuhl. Pameran ini mengangkat tema perdamaian, diplomasi budaya, dan keberlanjutan lingkungan sebagai bentuk kontribusi komunitas seni Indonesia.
Pameran tersebut menampilkan sekitar 150 karya lukisan, termasuk karya Susilo Bambang Yudhoyono, Christopher Lehmpfuhl, para perupa dari berbagai institusi seni di Indonesia, serta seniman cilik Indonesia. Rangkaian pameran juga diisi Artist Talk bertajuk Plein Air Painting as a Medium for Cross-Cultural and Cross-National Artistic Collaboration.










