TVRINews – Jakarta
Transaksi digital nasional melonjak tajam pada Juli 2026, ditopang ekspansi penggunaan QRIS serta infrastruktur pembayaran yang andal di tengah penguatan ekonomi domestik.
Sistem pembayaran digital di Indonesia mencatat tren positif yang signifikan. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa aktivitas transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) melesat hingga 82,42 persen secara tahunan pada Juli 2026.
Pertumbuhan tinggi ini turut disokong oleh perluasan basis pengguna serta penambahan jumlah merchant secara berkelanjutan di berbagai daerah.
Dalam konferensi pers yang digelar pada Rabu, 19 Agustus 2026, Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjelaskan bahwa ekosistem ekonomi dan keuangan digital tetap berada dalam jalur ekspansif. Stabilitas tersebut berakar dari sistem pembayaran yang terjaga aman, lancar, serta didukung fondasi infrastruktur yang kokoh.
"Volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi atau tumbuh 28,69 persen (yoy) pada Juli 2026 didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital," ujar Destry.
Lebih lanjut, otoritas moneter merinci bahwa kenaikan volume transaksi juga terjadi pada kanal perbankan digital lainnya. Transaksi melalui internet banking tercatat tumbuh 9,39 persen, sementara aplikasi mobile banking mengalami pertumbuhan hingga 24,25 persen secara tahunan.
Dari sisi infrastruktur sistem pembayaran ritel, layanan BI-FAST membukukan volume hingga 546 juta transaksi dengan pertumbuhan 31,62 persen, serta nilai transaksi yang menyentuh angka Rp1.355 triliun. Sementara itu, untuk transaksi bernilai besar melalui BI-RTGS, tercatat sebanyak 0,99 juta transaksi atau tumbuh 3,12 persen dengan nominal mencapai Rp20.097 triliun.
Selain memperkuat digitalisasi, bank sentral tetap berkomitmen menjaga ketersediaan likuiditas uang tunai yang memadai. Tercatat, posisi Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 15,10 persen menjadi Rp1.314 triliun guna memastikan distribusi merata di seluruh wilayah Nusantara, termasuk kawasan Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T).










