TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar mendorong kolaborasi dengan Indonesia Open Network (ION) untuk memperluas akses pasar digital bagi pelaku ekonomi kreatif Indonesia. Hal itu disampaikan Irene saat menerima audiensi ION di Kantor Kementerian Ekonomi Kreatif, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Irene menilai pemanfaatan teknologi dan jaringan digital dapat menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing, sekaligus memperluas komersialisasi karya kreatif Indonesia hingga ke pasar global.
Menurutnya, kemitraan dengan ION menjadi momentum untuk menghadirkan akses pasar digital yang lebih luas dan inklusif bagi para kreator di Tanah Air.
"Kemitraan bersama ION menjadi momentum penting untuk membuka akses pasar digital yang lebih luas dan inklusif bagi seluruh kreator Tanah Air. Integrasi teknologi ini tidak hanya memperkuat infrastruktur bisnis para pelaku usaha, tetapi juga dapat melipatgandakan daya saing serta nilai ekonomi karya kreatif nasional di kancah global," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Kamis, 20 Agustus 2026.
Dalam audiensi tersebut, kedua pihak membahas potensi pemanfaatan ION untuk mendukung pengembangan ekosistem ekonomi kreatif. Di antaranya melalui perluasan akses pasar dan pemasaran digital, perdagangan lintas batas, pembiayaan, perlindungan kekayaan intelektual, hingga pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Kemudian Irene mengatakan, kolaborasi tersebut nantinya dapat diperkuat melalui pembentukan tim kerja bersama. Tim tersebut akan mengoordinasikan berbagai peluang sinergi sesuai dengan bidang yang ada di Kementerian Ekraf.
"Kolaborasi pemanfaatan teknologi dan ekosistem jaringan terbuka dari ION bisa menjadi ruang yang tepat untuk mendukung digitalisasi serta perlindungan kekayaan intelektual ekonomi kreatif," ucapnya.
Meski demikian, Irene mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi harus diiringi dengan peningkatan kapasitas para pelaku ekonomi kreatif. Hal ini diperlukan agar pelaku usaha mampu beradaptasi dan memanfaatkan ekosistem digital secara optimal.
"Tantangan terbesarnya adalah membangun kapasitas pelaku usaha agar mampu beradaptasi secara optimal, sehingga kolaborasi yang adil dan berkelanjutan ini dapat segera diimplementasikan," tuturnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kementerian Ekraf, sektor ekonomi kreatif mencatatkan kinerja positif sepanjang 2025. Investasi di sektor ini mencapai Rp183,01 triliun, sementara nilai ekspor mencapai 31,94 miliar dolar AS. Sektor ekonomi kreatif juga menyerap 27,40 juta tenaga kerja dan mencakup 21 subsektor.
Sementara itu, Head Steering Committee ION Sachin Gopalan menyambut baik peluang kolaborasi tersebut. ION berharap dapat membentuk tim kerja bersama pemerintah untuk membangun ekosistem digital yang mampu memberdayakan talenta muda, UMKM, serta pelaku ekonomi kreatif lokal.
ION sendiri dikembangkan melalui kerja sama Kementerian UMKM dan Kementerian Komunikasi dan Digital sebagai bagian dari inisiatif Kerja Sama Digital Indonesia–India. Infrastruktur tersebut dirancang untuk mengintegrasikan berbagai aplikasi dan layanan, termasuk akses pasar digital, logistik, pembayaran, pembiayaan, asuransi, pengembangan keterampilan, serta perdagangan berbasis AI.










