TVRINews - Jakarta
Mata uang Garuda terdepresiasi ke level Rp17.500 per dolar AS akibat tekanan inflasi global dan sentimen negatif pasar modal.
Nilai tukar rupiah terus menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Rabu 13 Mei 2026.
Berdasarkan data Refinitiv, mata uang domestik terkoreksi 0,06% ke posisi Rp17.500 per dolar AS, sebuah angka yang mencatatkan sejarah baru sebagai level terendah sepanjang masa.

(Daily Chart USDIDR menyentuh level Rp17509 pada 13 Mei 2026, 10:14 WIB. sumber: TradingView)
Kemerosotan ini menjadi kelanjutan dari tekanan tajam yang terjadi pada penutupan hari sebelumnya, di mana rupiah terkoreksi 0,49%. Kondisi pasar yang tidak menentu menjelang libur panjang semakin diperparah oleh dinamika indeks dolar AS (DXY) yang bertahan kokoh di level 98,312.
Tekanan dari Indeks Global
Sentimen negatif tidak hanya datang dari pasar valuta asing, tetapi juga dipicu oleh keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) dalam tinjauan indeks global periode Mei 2026.
Dalam pengumuman tersebut, posisi Indonesia di pasar modal global kian terhimpit setelah enam saham domestik didepak dari MSCI Global Standard Index.
Situasi kian kontras pada MSCI Global Small Cap Indexes, di mana hanya satu emiten, yakni PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), yang berhasil masuk, sementara 13 saham lainnya justru dikeluarkan.
Perubahan ini dijadwalkan efektif pada 29 Mei 2026 dan diprediksi akan memicu aliran modal keluar (capital outflow).
Geopolitik dan Inflasi AS
Di sisi lain, penguatan dolar AS didorong oleh rilis data inflasi Amerika Serikat yang melampaui ekspektasi. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS tercatat melonjak 3,8% secara tahunan pada April 2026, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh kenaikan harga komoditas energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran.
Sentimen risiko global semakin memburuk setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa prospek gencatan senjata dengan Iran berada dalam posisi rapuh. Ketegangan ini memupuskan harapan pasar akan adanya kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed
Kombinasi antara inflasi yang memanas dan ketidakpastian geopolitik memaksa pelaku pasar untuk mengevaluasi kembali proyeksi kebijakan moneter Bank Sentral AS. Mengutip CME FedWatch Tool, ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga The Fed pada tahun ini kini hampir sepenuhnya sirna.
Sebaliknya, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember mendatang dengan peluang mencapai 35%. Hal ini membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap tinggi, yang secara otomatis menarik minat investor kembali ke aset berbasis dolar dan meninggalkan mata uang pasar berkembang seperti rupiah.










