TVRINews – Jakarta
Kebijakan tarif tambang Juni 2026 bikin investor khawatir, indeks saham rawan terkoreksi lagi.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan berada dalam tekanan pada perdagangan Selasa 12 Mei 2026.

(Chart IHSG 12 Mei 2026, 09:22. sumber: Stockbit)
Sentimen negatif dari ketidakpastian kebijakan domestik serta fluktuasi nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang membayangi gerak pasar modal Indonesia.
Pada penutupan perdagangan sebelumnya, IHSG tercatat merosot 0,92 persen ke level 6.905,6.
Meski sempat menunjukkan upaya penguatan (rebound) terbatas, indeks gagal mempertahankan posisinya seiring dengan dinamika kebijakan pemerintah terkait sektor komoditas.
Ketidakpastian Kebijakan Sektor Pertambangan
Pasar merespons secara reaktif terhadap silang informasi mengenai penyesuaian tarif royalti tambang.
Awalnya, sentimen sempat membaik setelah adanya laporan penundaan penerapan tarif royalti untuk komoditas strategis seperti tembaga, nikel, dan emas guna formulasi yang lebih adil.
Namun, kepastian hukum kembali menjadi sorotan setelah Kementerian Keuangan menegaskan bahwa aturan tersebut akan tetap diberlakukan pada awal Juni 2026 melalui Peraturan Presiden.
Tekanan Rupiah dan Geopolitik Global
Selain faktor internal, performa bursa domestik kian tertekan oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang kini melampaui level Rp17.400.
Kondisi ini diperburuk oleh sentimen negatif dari pasar Asia menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia.
Kenaikan harga energi tersebut dipicu oleh dinamika geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menolak proposal damai dari Iran.










