TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, mendorong penguatan industri upcycled fashion di Bali agar mampu menembus pasar global melalui pengembangan kreativitas dan intellectual property (IP).
Menurutnya, Future Loundry menjadi contoh bagaimana kreativitas berbasis budaya lokal dan subkultur anak muda dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang kompetitif.
"Future Loundry merupakan contoh nyata bagaimana kreativitas yang berakar pada budaya lokal dan subkultur anak muda dapat bertransformasi menjadi ekosistem ekonomi yang tangguh," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Senin, 11 Mei 2026.
Ia menegaskan, kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan inovasi upcycled fashion dan IP kreatif mendapatkan dukungan yang tepat agar mampu bersaing di pasar internasional.
Irene mengapresiasi keberanian Future Loundry memadukan estetika post-apocalyptic dengan elemen tribal, sporty, anime, metal, dan street culture yang dinilai memiliki daya tarik kuat bagi pasar generasi muda global.
"Kami mengapresiasi keberanian Future Loundry memadukan estetika post-apocalyptic dengan semangat keberlanjutan sebagai identitas ekonomi kreatif masa depan," ucapnya.
Menurut Irene, kekuatan ekonomi kreatif Indonesia kini tidak hanya bertumpu pada simbol budaya tradisional, tetapi juga kemampuan mengolah budaya menjadi inovasi modern yang relevan dengan perkembangan global.
"Kekuatan ekonomi kreatif kita tidak lagi hanya terbatas pada simbol tradisional, melainkan pada bagaimana kita menjadikan budaya sebagai fondasi untuk inovasi masa depan yang berkelanjutan dan kompetitif di kancah dunia," tegasnya.
Kementerian Ekonomi Kreatif, lanjut Irene, akan terus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif dan berdampak nyata bagi pelaku kreatif di Bali maupun nasional.










