TVRINews, Jakarta
Mata uang kawasan Asia, termasuk Rupiah, melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin pagi, 11 Mei 2026. Penguatan dolar AS dipicu meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketidakpastian global.
Berdasarkan data Refinitiv, Rupiah dibuka melemah 0,23 persen ke level Rp17.400 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat 0,14 persen ke level 98,038.
Penguatan dolar membuat sebagian besar mata uang Asia tertekan. Tercatat, 8 dari 10 mata uang regional mengalami pelemahan pada perdagangan pagi ini.
Di antara yang paling tertekan adalah Baht Thailand dan Peso Filipina. Baht tercatat melemah ke level 32,36 per dolar AS, sedangkan Peso Filipina turun 0,69 persen ke posisi 60,898 per dolar AS.
Sementara itu, Yen Jepang juga ikut melemah ke level 157,04 per dolar AS, diikuti Ringgit Malaysia yang terdepresiasi 0,15 persen ke 3,924 per dolar AS, serta Dolar Singapura yang turun 0,13 persen ke 1,268 per dolar AS.
Di tengah pelemahan mayoritas mata uang Asia, Dong Vietnam justru mencatat penguatan dan menjadi yang paling stabil di kawasan dengan berada di level 26.275 per dolar AS.
Penguatan dolar AS didorong oleh meningkatnya sentimen safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik, khususnya belum adanya perkembangan penyelesaian konflik AS–Iran yang telah berlangsung selama 10 pekan terakhir.
Dari sisi ekonomi, data ketenagakerjaan AS juga turut memperkuat dolar. Data nonfarm payrolls April tercatat naik 115.000, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 62.000.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi AS periode April yang akan menjadi acuan arah kebijakan ekonomi selanjutnya, termasuk dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap inflasi.
Secara teknikal, selama indeks dolar masih berada dalam tren penguatan, mata uang Asia diperkirakan masih akan berada di bawah tekanan dalam jangka pendek, termasuk Rupiah yang sensitif terhadap sentimen global.










