TVRINews, Jakarta
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperluas akses pasar dan meningkatkan daya saing jenama kuliner lokal melalui partisipasi dalam Cafe & Brasserie Expo (CBE) 9th Edition 2026 di Hall 5 Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2.
Melalui Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Kementerian Ekraf menghadirkan Pavilion Ekraf sebagai wadah promosi dan pengembangan usaha bagi pelaku kuliner binaan, khususnya subsektor kopi dan cokelat. Upaya ini menjadi bagian dari program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK) Kuliner Batch 2 dan Batch 3.
Empat jenama binaan yang hadir dalam Pavilion Ekraf yakni Kingkaf, Aricafe, L’ile Chocolate, dan Cokelatin Signature. Kegiatan ini turut melibatkan dua mitra strategis, yaitu Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) dan Persekutuan Perkumpulan Profesional Investor Kopi Indonesia (PAPIKI).
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, mengatakan subsektor kuliner memiliki peran penting dalam memperkuat identitas budaya sekaligus menggerakkan perekonomian nasional.
Menurut Yuke, produk kuliner Indonesia perlu dikembangkan agar memiliki nilai tambah, identitas merek yang kuat, serta mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
"Kuliner bukan sekadar produk yang dikonsumsi, tetapi merupakan bagian dari identitas, kreativitas, dan kekuatan ekonomi Indonesia. Karena itu, tugas kita adalah memastikan kreativitas yang lahir dari pelaku kuliner dapat berkembang menjadi produk yang bernilai tambah, memiliki jenama yang kuat, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas," ujar Yuke dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Minggu, 11 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, kopi dan cokelat dipilih karena memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi kreatif. Pendampingan kepada pelaku usaha tidak hanya berfokus pada penjualan bahan baku, tetapi juga peningkatan kualitas produk, desain kemasan, identitas merek, narasi produk atau storytelling, hingga pengembangan produk turunan.
Presiden Direktur Panorama Media, Royanto Handaya, menyambut positif partisipasi Kementerian Ekraf dalam CBE 2026. Menurutnya, Pavilion Ekraf menjadi sarana untuk mempertemukan pelaku usaha binaan dengan jejaring bisnis dan calon investor.
Royanto berharap kehadiran pavilion tersebut dapat membuka peluang kemitraan dan transaksi bisnis, sekaligus meningkatkan visibilitas produk lokal agar semakin kompetitif di pasar nasional maupun global.
Sementara itu, Direktur Kuliner Kementerian Ekraf, Romi Astuti, menekankan pentingnya mendorong jenama kuliner Indonesia agar mampu mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
Ia berharap semakin banyak jenama lokal yang tidak hanya berkembang di pasar domestik, tetapi juga dapat diperluas melalui kemitraan, sistem waralaba (franchise), dan ekspansi ke pasar internasional.
"Inilah yang kami maksud dengan membawa kuliner Indonesia dari produk menjadi aset ekonomi kreatif," kata Romi.
Dari sisi pelaku usaha, perwakilan Cokelatin Signature, Irena Surosoputra, menilai program ASIK memberikan pembekalan praktis untuk memperluas jangkauan pasar, termasuk strategi mencari pembeli melalui platform digital.
Irena berharap keikutsertaan dalam CBE 2026 dapat membuka peluang bisnis, baik melalui skema business-to-business (B2B) maupun business-to-consumer (B2C), sehingga pasar produk cokelat Indonesia semakin luas.
Melalui fasilitasi ini, Kementerian Ekraf berupaya memperkuat ekosistem subsektor kuliner yang inklusif dan inovatif, sekaligus mendorong produk lokal memiliki nilai tambah dan daya saing di pasar global.










