TVRINews, Jakarta
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperkuat kapasitas pelaku usaha fesyen melalui Pelatihan Manajemen Usaha Fesyen dalam program Aktivasi Creative Hub di UnionSPACE - Citi Hub Harton, Jakarta Utara, pada 7–10 Oktober 2026. Program ini bertujuan meningkatkan profesionalisme pengelolaan usaha sekaligus memperluas akses pasar produk fesyen lokal hingga tingkat global.
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, mengatakan aktivasi Creative Hub menjadi wadah pelatihan, pendampingan, dan pengembangan jejaring bagi para pelaku ekonomi kreatif. Melalui program tersebut, Kementerian Ekraf mendorong pelaku fesyen meningkatkan nilai tambah produk lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
"Kementerian Ekraf melakukan aktivasi kreatif hub untuk para pegiat ekraf supaya mereka bisa mendapat pelatihan dan pendampingan demi meningkatkan kapasitas produk-produk bernilai tambah dan akses berjejaring. Harapannya, produk-produk lokal (local champion) bisa diterima oleh market yang lebih luas dari tingkat nasional hingga semangat go global," ujar Yuke dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Menurutnya, pengembangan subsektor fesyen juga diharapkan dapat memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di daerah dan menjadi salah satu mesin baru pertumbuhan ekonomi.
Direktur Fesyen Kementerian Ekraf, Iffah Sa’aidah, menegaskan keberhasilan program tidak hanya diukur dari pelaksanaan pelatihan, tetapi juga dari penerapan pengetahuan dan keterampilan oleh peserta dalam mengembangkan usaha.
Karena itu, pelatihan dirancang untuk menggabungkan penguatan manajemen usaha dengan peningkatan keterampilan berbasis kompetensi. Peserta diharapkan mampu meningkatkan kualitas produk, memperkuat pengelolaan bisnis, memperluas pasar, serta meningkatkan daya saing.
"Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari terlaksananya kegiatan, tetapi dari sejauh mana pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan para pegiat fesyen untuk meningkatkan kualitas produk, memperkuat pengelolaan usaha, memperluas pasar, dan meningkatkan daya saing," kata Iffah.
Penguatan kapasitas tersebut sejalan dengan besarnya kontribusi subsektor fesyen terhadap perekonomian nasional. Pada Januari–April 2026, nilai ekspor fesyen tercatat mencapai 5,85 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 5,58 miliar dolar AS.
Nilai tersebut menyumbang sekitar 58,55 persen dari total ekspor ekonomi kreatif, sekaligus menempatkan fesyen sebagai subsektor dengan nilai ekspor terbesar. Subsektor ini juga memiliki produk domestik bruto (PDB) sebesar Rp259,56 triliun dan menyerap 5,07 juta tenaga kerja.
Kepala Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Administrasi Jakarta Utara, Restuning Dyah Widyanti, mengapresiasi pendekatan program yang turut menekankan pembangunan ekosistem di balik sebuah jenama (brand), bukan hanya berfokus pada produk.
Menurutnya, perubahan tren, selera konsumen, dan pola belanja menuntut pelaku fesyen untuk terus beradaptasi. Kolaborasi antara pemilik ide, desainer, dan produsen menjadi salah satu faktor penting dalam membangun jenama yang berdaya saing.
Restuning juga mendorong peserta memanfaatkan pelatihan untuk mengembangkan pengetahuan, memperluas jejaring, serta membuka peluang kolaborasi. Ia berharap semakin banyak jenama fesyen asal Jakarta Utara yang berkembang dan mampu dikenal lebih luas.
Aktivasi Creative Hub Fesyen Flagship Program 2026 selanjutnya dijadwalkan berlanjut di sejumlah daerah hingga November 2026, antara lain Tangerang Selatan, Banda Aceh, Aceh Besar, Batam, Padang, Yogyakarta, Banyuwangi, Malang, dan Makassar.
Melalui perluasan program tersebut, Kementerian Ekraf berharap ruang kreatif dapat berfungsi sebagai pusat pembelajaran dan kolaborasi yang produktif, sekaligus mendorong pelaku fesyen daerah meningkatkan kualitas produk, memperluas akses pasar, dan menciptakan lapangan kerja.










