TVRINews – Jakarta
BPS Mencatat Kenaikan Produksi Beras di Tengah Ancaman Cuaca Ekstrem
Sektor pertanian nasional menunjukkan ketahanan di awal tahun ini. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan produksi beras periode Januari hingga April 2026 menyentuh angka 14,03 juta ton, mengalami kenaikan tipis sebesar 0,12% atau setara dengan penambahan 16.810 ton jika disandingkan dengan rentang waktu yang sama pada tahun sebelumnya.
Tren positif ini turut tecermin pada komoditas gabah. Sepanjang empat bulan pertama tahun ini, total produksi Gabah Kering Giling (GKG) mencapai 24,36 juta ton, tumbuh 28.765 ton dari catatan tahun lalu yang berada di posisi 24,33 juta ton GKG.
Penguatan di sektor hulu ini tidak terlepas dari bertambahnya luas panen yang kini seluas 4,51 juta hektare, meluas sekitar 19.182 hektare dibanding periode sebelumnya.
Secara rinci, kurva produksi beras bergerak dinamis sejak awal tahun, bermula dari 1,73 juta ton pada Januari, melonjak menjadi 2,88 juta ton pada Februari, lalu menorehkan puncak tertingginya di angka 5,02 juta ton pada Maret, sebelum akhirnya berada di level 4,40 juta ton pada April.
Kendati tren awal tahun ini menunjukkan hasil yang stabil, pemerintah menyadari tantangan iklim global masih mengintai, khususnya ancaman musim kemarau panjang dan fenomena El Niño.
Guna meredam risiko penurunan produktivitas akibat kendala pasokan air, Kementerian Pertanian mengambil langkah cepat dengan memperkuat intervensi langsung di lapangan melalui program pompanisasi serta perbaikan infrastruktur irigasi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa pihaknya mengambil sikap proaktif untuk mendampingi para petani secara langsung agar tidak menghadapi tekanan musim kering seorang diri.
"Kami turun, pasang pompa-pompa, kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan," ujar Amran dalam keterangan resmi yang dirilis pada Jumat 4 September 2026.
Sebagai langkah antisipasi lanjutan, pemerintah telah menyiapkan sebanyak 56 ribu unit pompa air menyusul efektivitas program serupa tahun lalu yang sukses mendongkrak tambahan produksi sekitar 2,8 juta ton gabah di Pulau Jawa.
Selain pompanisasi, strategi mitigasi juga difokuskan pada optimalisasi embung, perbaikan jaringan irigasi tersier, percepatan masa tanam, serta penggunaan varietas benih padi yang memiliki ketahanan tinggi terhadap kondisi kekeringan.
Langkah komprehensif tersebut diharapkan mampu mendongkrak indeks pertanaman dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun pada lahan-lahan potensial. Dengan berkaca pada pengalaman menghadapi hantaman El Niño pada tahun 2015 dan 2023, Kementerian Pertanian optimis fondasi pasokan pangan domestik sepanjang tahun 2026 akan tetap terjaga dengan baik sekaligus melindungi kesejahteraan para petani di seluruh daerah.










