TVRINews – Jakarta
Jakarta Tetapkan Ambisi Fiskal: Pertumbuhan 6 Persen dan Reformasi Investasi Jadi Fokus Utama RAPBN 2027
Pemerintah Indonesia secara resmi menetapkan target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar enam persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027.
Sasaran ambisius ini dirancang dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian fiskal demi mengakselerasi kesejahteraan masyarakat di tengah dinamika global.
Langkah strategis ini sebelumnya telah diumumkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI.
Menkeu memaparkan bahwa pencapaian target pertumbuhan tinggi tersebut memerlukan dorongan masif pada sektor penanaman modal.

(Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI (Foto: Humas Kemenkeu/IAN/DND - Humas Kemensetneg) )
"Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, mencapai enam persen di tahun 2027, dibutuhkan akselerasi pertumbuhan investasi hingga tujuh persen," ujar Purbaya dikutip Kamis 3 September 2026.
Guna merealisasikan target tersebut, pemerintah menyiapkan skema kolaborasi lintas sektor yang melibatkan tiga pilar utama: negara, korporasi swasta, dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Dalam kerangka ini, anggaran negara diposisikan sebagai katalisator, sementara pihak swasta didorong menjadi motor penggerak utama. Adapun Danantara disiapkan untuk mengambil peran strategis dalam pembiayaan sektor-sektor hilirisasi industrialisasi.
Optimisme pemerintah bukan tanpa dasar. Sepanjang semester pertama tahun 2026, perekonomian domestik tercatat mampu tumbuh solid di angka 5,45 persen disertai tingkat inflasi yang terkendali.
Kinerja fiskal hingga akhir Juli 2026 juga menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan pendapatan negara mencapai 21,3 persen, sementara rasio defisit anggaran tetap terjaga di level 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Ketahanan ekonomi dan solidnya kinerja fiskal yang terus terjaga sepanjang 2026 menjadi landasan yang kuat bagi perumusan kebijakan ekonomi dan fiskal tahun 2027," tambahnya.
Sebagai bagian dari mitigasi risiko global, otoritas fiskal berkomitmen memperkuat stabilitas makroekonomi melalui pengendalian harga, penjagaan tingkat suku bunga yang kompetitif, serta stabilisasi nilai tukar rupiah guna melindungi daya beli publik. Selain itu, optimalisasi sektor hulu minyak dan gas bumi turut digenjot melalui perbaikan iklim investasi dan pemberian insentif fiskal yang terukur.
Dari sisi postur anggaran, RAPBN 2027 dirancang dengan pendapatan negara dipatok Rp3.426 triliun dan belanja negara mencapai Rp4.097,2 triliun, dengan defisit terkendali di kisaran 2,40 persen terhadap PDB.
Kerangka makro ini juga mencakup asumsi nilai tukar rupiah di level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat serta tingkat inflasi pada posisi 2,5 persen.
Pemerintah berharap momentum pertumbuhan ini berdampak langsung pada indikator kesejahteraan sosial. Pada tahun 2027, tingkat kemiskinan ditargetkan turun ke rentang 6 hingga 6,5 persen, tingkat pengangguran terbuka ditekan ke level 4,3 hingga 4,87 persen, serta perbaikan rasio gini pada kisaran 0,362 sampai 0,367.









