TVRINews – Jakarta
Terstimulasi pelemahan dolar AS serta ekspektasi kebijakan Bank of Japan dan The Federal Reserve, mata uang Garuda melanjutkan tren positif pada akhir pekan.
Pasar keuangan domestik menyambut akhir pekan dengan catatan positif. Mata uang Garuda melanjutkan tren penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, didorong oleh tekanan global terhadap greenback serta pergeseran ekspektasi suku bunga bank sentral utama dunia.
Berdasarkan data Refinitiv pada pembukaan perdagangan Jumat 4 September 2026, rupiah tercatat mengalami apresiasi hingga 0,23 persen ke posisi Rp17.610 per dolar AS. Kinerja ini sekaligus menyambung momentum positif sehari sebelumnya, ketika mata uang Garuda ditutup melesat 0,54 persen ke level Rp17.655 per dolar AS, yang menandai posisi terkuat sejak 21 Mei 2026.
Analis pasar Global menilai pergerakan positif ini tidak terlepas dari melemahnya indeks dolar AS (DXY) di pasar global, yang memberikan ruang gerak lebih longgar bagi aset-aset di negara berkembang.
Tekanan terhadap mata uang Paman Sam sebagian besar dipicu oleh lonjakan nilai tukar yen Jepang. Mata uang Negeri Sakura tersebut melesat lebih dari 2 persen hingga menyentuh kisaran 155,47 per dolar AS.
Lonjakan ini terjadi setelah Anggota Dewan Kebijakan Bank of Japan (BOJ), Hajime Takata, mengisyaratkan perlunya percepatan normalisasi suku bunga guna meredam tekanan inflasi domestik. Peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertemuan September kini diestimasi pasar telah mencapai 75 persen.
Tekanan terhadap greenback semakin terakumulasi menyusul pernyataan Gubernur The Federal Reserve (The Fed), Christopher Waller. Dalam pandangannya, Waller membuka peluang bagi bank sentral AS untuk menahan suku bunga acuan pada pertemuan terdekat, apabila indikator ekonomi lanjutan mengonfirmasikan tren pelambatan inflasi.
"Kami melihat ruang bagi kebijakan yang lebih akomodatif atau setidaknya terjaga, apabila data inflasi konsisten menunjukkan peredaan tekanan harga," ujar Waller dalam pandangan resminya yang turut mengubah proyeksi pelaku pasar pada lamamresmi FED.
Menyusul sinyal tersebut, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September terkoreksi turun menjadi 48 persen, dari sebelumnya berada di kisaran 59 persen.
Kendati demikian, para pelaku pasar tetap mengambil posisi hati-hati. Arah pergerakan nilai tukar lanjutan akan sangat bergantung pada Rilis Laporan Ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) yang dijadwalkan dipublikasikan pada Jumat 4 September 2026 waktu setempat. Konsensus ekonom memperkirakan perekonomian AS mampu menyerap sekitar 56.000 lapangan kerja baru sepanjang Agustus, setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya.
Data tenaga kerja yang berada di bawah ekspektasi pasar diyakini bakal semakin menekan posisi dolar AS, yang pada gilirannya berpotensi memperpanjang nafas penguatan rupiah hingga penutupan perdagangan pekan ini.










