TVRINews – Jakarta
Lonjakan aktivitas pabrik dan surplus ekspor tunjukkan optimisme tinggi pelaku usaha terhadap prospek makroekonomi Indonesia.
Perekonomian Indonesia menunjukkan ketahanan yang kian solid menjelang rilis resmi data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal ketiga. Tiga indikator makroekonomi utama yang diumumkan pada awal pekan ini (3 November 2026) mengonfirmasi stabilitas finansial dan produktivitas industri yang tetap terjaga di tengah dinamika global.
Berdasarkan data resmi, laju inflasi nasional pada Akhir Oktober 2026 berada di level 3,23 persen secara tahunan (year-on-year), masih berada dalam rentang target sasaran pemerintah. Sementara itu, neraca perdagangan September 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar USD3,36 miliar, melanjutkan tren positif selama tiga bulan berturut-turut.
Di sektor riil, Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) Manufaktur Indonesia melonjak ke level 54,0 pada Oktober, mencatatkan laju ekspansi tertinggi dalam kurun waktu lebih dari dua tahun terakhir.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah konsisten menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan stimulus pertumbuhan.

(Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah konsisten menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan stimulus pertumbuhan. [Foto: Kemenko Perekonomian])
"Pemerintah terus menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Terjaganya inflasi, kembali ekspansifnya sektor manufaktur, dan tetap tumbuhnya ekspor menunjukkan bahwa fondasi perekonomian Indonesia tetap kuat di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian," ujar Airlangga dikutip laman resmi Kementerian ekonomi, Selasa, 4 Oktober 2026.
Ia menambahkan, fokus kebijakan kedepan diarahkan pada penguatan sinergi lintas sektoral guna melindungi daya beli masyarakat, menggairahkan investasi, serta menaikkan nilai tambah produk nasional.
Pengendalian Inflasi dan Kesiapan Akhir Tahun
Stabilitas harga domestik pada Oktober 2026 ditopang oleh inflasi inti yang melandai ke level 2,56 persen (yoy). Meskipun demikian, tekanan harga pangan bergejolak (volatile food) mengalami kenaikan menjadi 5,81 persen (yoy), yang terutama dipicu oleh penurunan produktivitas komoditas hortikultura akibat perpanjangan musim kemarau dampak fenomena El Niño.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi potensi lonjakan permintaan pada periode Natal dan Tahun Baru serta risiko cuaca ekstrem, pemerintah memperkuat koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP-TPID).
Strategi mitigasi difokuskan pada optimalisasi jaringan irigasi, percepatan pola tanam, penguatan sistem peringatan dini (early warning system), serta perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) guna memastikan kelancaran distribusi logistik pangan.
Surplus Ekspor dan Penguatan Industri Manufaktur
Kinerja sektor eksternal tetap menjadi penopang utama ketahanan makroekonomi nasional. Nilai ekspor pada September 2026 tercatat mencapai USD27,59 miliar, didorong oleh penguatan harga komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit, batu bara, gas alam, serta produk pertambangan.
Prospek ekspor jangka menengah juga dinilai positif seiring implementasi 25 perjanjian perdagangan internasional serta rencana pemberlakuan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) dalam waktu dekat.
Di sisi lain, impor total tercatat sebesar USD24,23 miliar, di mana impor migas mengalami penurunan sebesar 7,35 persen secara bulanan (month-to-month). Penurunan ini merefleksikan efektivitas kebijakan ketahanan energi domestik, termasuk pemanfaatan bahan bakar nabati B50. Adapun impor bahan baku dan barang modal tetap tumbuh tinggi, mencerminkan tingginya utilitas dan ekspansi kapasitas produksi di sektor industri.
Optimisme dunia usaha turut terefleksi dari lonjakan PMI Manufaktur ke level 54,0 pada Oktober 2026 dari posisi sebelumnya di angka 52,4. Survei menunjukkan adanya akselerasi permintaan domestik serta rekor pertumbuhan pesanan ekspor baru yang merupakan pencapaian tertinggi sejak tahun 2011.
"Peningkatan aktivitas manufaktur dan kinerja ekspor menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat investasi, hilirisasi, peningkatan produktivitas, serta perluasan akses pasar," pungkas Airlangga.









