TVRINews – Jakarta
Mata uang Garuda bergerak terbatas seiring dinamika pasar regional.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pergerakan fluktuatif pada perdagangan awal pekan ini, Selasa, 3 November 2026. Mengawali sesi pagi di zona merah dengan pelemahan tipis 0,01% di level Rp18.151 per dolar AS, mata uang Garuda tak lama berselang berbalik arah ke teritori positif.
Pada pukul 09:03 WIB, rupiah tercatat menguat tipis 0,03% dan berada di posisi Rp18.145 per dolar AS, sejalan dengan mayoritas mata uang kawasan Asia yang bergerak di zona hijau.
Dinamika pergerakan nilai tukar ini terjadi di tengah sentimen global yang cukup beragam, mulai dari penurunan harga komoditas energi hingga arah kebijakan bank sentral utama dunia.
Sejumlah analis pasar uang Asia menilai bahwa stabilitas domestik saat ini masih ditopang oleh surplus neraca perdagangan yang solid, kendati tekanan eksternal dan sentimen geopolitik tetap memerlukan kewaspadaan tinggi dari otoritas moneter.
Pengaruh Koreksi Harga Minyak dan Sentimen Geopolitik
Pergerakan rupiah pada perdagangan pagi ini turut dipengaruhi oleh merosotnya harga minyak dunia menyusul perkembangan meredanya ketegangan geopolitik. Harga minyak Brent sebelumnya mengalami koreksi tajam hingga lebih dari 7% pada perdagangan Senin, mencatatkan penurunan harian terdalam dalam beberapa bulan terakhir.
Koreksi harga komoditas tersebut terjadi setelah adanya sinyal positif dari komunikasi intensif antara Amerika Serikat dan Iran terkait upaya penyelesaian konflik jangka panjang.
Penurunan harga energi ini memberikan angin segar bagi pasar keuangan global karena dinilai mampu meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi lanjutan serta menekan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS.
Kinerja Eksternal dan Proyeksi Kebijakan Moneter
Dari sisi fundamental makroekonomi domestik, posisi neraca perdagangan masih mencatatkan rapor positif dengan surplus mencapai US$3,36 miliar. Angka tersebut melampaui ekspektasi konsensus pasar yang dihimpun sebelumnya.
Di sisi lain, laju inflasi domestik tercatat berada di level 3,28%, sedikit lebih rendah dari proyeksi awal yang sempat menyentuh kisaran 3,3%. Kendati demikian, depresiasi rupiah yang tercatat melemah 1,42% sepanjang Oktober lalu sempat menyentuh level penutupan terlemah sejarah di Rp18.127 per dolar AS menjadi perhatian serius para pengamat.
Sejumlah ekonom memperkirakan dinamika ini berpotensi mendorong Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan sikap kebijakan yang lebih ketat (hawkish) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mendatang.









