TVRINews – Jakarta
Implementasi B50 dan Kapasitas Kilang Balikpapan Menjadi Kunci Kedaulatan Energi Nasional
Pemerintah Indonesia memproyeksikan transformasi besar dalam peta energi nasional dengan target penghentian total impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar pada tahun 2026, seiring dengan penguatan kebijakan hilirisasi sektor kelapa sawit dan peningkatan kapasitas produksi kilang domestik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa ketergantungan pada pasokan luar negeri untuk komoditas solar akan segera berakhir.
Berdasarkan data kementerian, konsumsi solar nasional saat ini berkisar di angka 40 juta kiloliter (kl) per tahun, sebuah volume yang selama ini membebani neraca perdagangan akibat porsi impor yang signifikan.
"Dalam sejarah bangsa kita, pada 2026 mendatang, insya Allah kita tidak akan lagi melakukan impor solar. Seluruh kebutuhan akan dipenuhi dari produksi dalam negeri," ujar Bahlil dikutip Minggu 3 Mei 2026.
Akselerasi Biodiesel: Menuju B50

Pilar utama dari ambisi swasembada ini adalah keberlanjutan program biodiesel yang telah dirintis sejak satu dekade lalu.
Indonesia secara bertahap meningkatkan campuran minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) ke dalam bahan bakar diesel, mulai dari B10 hingga saat ini mencapai B40.
Pemerintah berencana melakukan lompatan besar dengan meluncurkan program B50 pada Juli mendatang. Kebijakan ini akan mengonversi campuran CPO dan metanol menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dalam skala yang lebih masif.
"Langkah mengonversi campuran dari B0 ke B50 adalah strategi kunci substitusi impor. Dengan mencampur FAME hasil olahan CPO ke dalam solar murni, kita berhasil menekan angka ketergantungan asing secara drastis," tambah Bahlil.
Optimalisasi Kilang Balikpapan
Selain faktor mandatori biodiesel, pengoperasian Proyek Perluasan Kilang (Refinery Development Master Plan/RDMP) Balikpapan memegang peranan krusial.
Penambahan kapasitas kilang ini memungkinkan Indonesia memproses kebutuhan solar secara mandiri tanpa harus mengandalkan kilang di luar negeri.
Secara teknis, kebutuhan nasional sebesar 39,8 juta kl per tahun akan tertutupi oleh sinergi antara produksi solar murni dan pasokan FAME. Saat ini, program B40 telah menyumbang sekitar 15,9 juta kl FAME, menyisakan kebutuhan solar murni (B0) sebesar 23,9 juta kl.
Dengan kapasitas produksi nasional yang telah menyentuh angka 26,5 juta kl per tahun, terdapat surplus produksi yang memungkinkan pemerintah menghentikan impor produk solar kategori CN 48 dan CN 51 mulai pertengahan tahun depan.










