TVRInews – Washington DC
Krisis Selat Hormuz Picu Inflasi Energi Global di Tengah Kebuntuan Diplomatik Iran
Rata-rata harga bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat resmi menyentuh angka $4,30 (sekitar Rp68.800) per galon pada Kamis 30 April 2026 waktu setempat.
Lonjakan ini terjadi di tengah blokade Selat Hormuz dan kebuntuan diplomasi antara Washington dan Teheran yang kian meluas.
Berdasarkan data dari American Automobile Association (AAA), harga satu galon (3,8 liter) bensin telah naik hampir 30 sen dalam sepekan terakhir.
Jika dibandingkan dengan periode sebelum pecahnya konflik AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, harga tersebut meroket dari posisi di bawah $3 (sekitar Rp48.000).
Tekanan Ekonomi dan Realitas Lapangan
AAA melaporkan bahwa harga rata-rata nasional saat ini lebih tinggi $1,12 (sekitar Rp17.920) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kondisi ini dipicu oleh harga minyak mentah dunia yang melampaui $100 (sekitar Rp1.600.000) per barel tanpa ada indikasi pembukaan kembali jalur logistik vital di Selat Hormuz.
"Harga gas mencapai titik tertinggi dalam empat tahun terakhir, setara dengan level pada akhir Juli 2022," tulis AAA dalam laporan resminya. Di California, negara bagian dengan populasi hampir 40 juta jiwa, warga bahkan harus membayar lebih dari $6 (sekitar Rp96.000) per galon.
Lonjakan harga energi ini memicu inflasi tajam dan ketidakpastian ekonomi, yang berdampak langsung pada penurunan tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Presiden Donald Trump ke level terendah dalam sejarah jajak pendapat terbaru.
Retorika Politik vs Dinamika Pasar
Menanggapi tekanan tersebut, Presiden Donald Trump bersikeras bahwa kenaikan harga ini hanyalah pengorbanan sementara demi mencapai tujuan militer di Timur Tengah. Ia optimis harga akan segera terkoreksi begitu konflik berakhir.
"Gas akan turun. Segera setelah perang selesai, harganya akan jatuh seperti batu," ujar Trump kepada wartawan pada hari Kamis 30 April.
Ia juga menegaskan komitmennya untuk memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, sebuah klaim yang secara konsisten dibantah oleh Teheran.
Namun, analisis pasar menunjukkan bahwa harga minyak tidak selalu turun secara otomatis setelah permusuhan berhenti. Meski gencatan senjata sempat tercapai pada 8 April, biaya BBM di AS justru terus merangkak naik.
Kebuntuan Diplomasi
Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap menantang. Teheran menolak perundingan langsung selama blokade laut belum dicabut, meskipun Trump telah mengutus utusan tingkat tinggi ke Pakistan untuk memulai negosiasi.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, melalui pernyataan resminya menyatakan bahwa negaranya mulai kehabisan kesabaran terhadap situasi "tanpa perang, tanpa damai" di bawah kepungan AS.
"Dunia telah menyaksikan toleransi Iran. Apa yang dilakukan dengan kedok blokade angkatan laut adalah perpanjangan dari operasi militer terhadap bangsa yang membayar harga untuk kemandiriannya," tegas Pezeshkian melalui unggahan di media sosial, seraya menambahkan bahwa pendekatan opresif ini tidak lagi dapat ditoleransi.
Meskipun Amerika Serikat merupakan salah satu produsen minyak terbesar dunia, ketergantungan pada dinamika harga global tetap membuat konsumen di pom bensin AS terpukul oleh krisis di Timur Tengah.










