TVRINews, Jakarta
Kementerian Pertanian (Kementan) menjadikan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 sebagai momentum untuk mempercepat hilirisasi subsektor perkebunan. Melalui ajang tersebut, pelaku usaha dari berbagai daerah menampilkan beragam produk olahan berbasis komoditas perkebunan yang mencerminkan semakin berkembangnya kemampuan pekebun dalam menciptakan nilai tambah.
Transformasi tersebut dinilai menjadi bagian dari strategi Kementan untuk meningkatkan daya saing perkebunan nasional. Tidak hanya berperan sebagai penghasil bahan baku, para pekebun kini mulai mengembangkan produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, sekaligus membuka peluang pasar baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi di perdesaan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, penguatan kewirausahaan dan hilirisasi menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani dan pekebun.
“PENAS bukan sekadar ajang pertemuan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, tetapi menjadi wadah pembelajaran, pertukaran inovasi, dan penguatan jejaring usaha. Melalui kegiatan ini, kita ingin mendorong lahirnya lebih banyak wirausaha pertanian yang mampu menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan petani,”ujar Mentan Amran dalam keterangan yang diterima tvrinews, Senin, 13 Juli 2026.
Semangat hilirisasi tersebut terlihat dari berbagai inovasi yang dipamerkan dalam PENAS XVII. Pelaku usaha menghadirkan aneka produk olahan, mulai dari gula aren, gula semut, kopi olahan dari hulu hingga hilir, teh daun kopi, hingga berbagai produk berbasis kelapa yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan komoditas mentah.
Menurut Kementan, pengembangan produk turunan tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi hasil perkebunan, tetapi juga membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat rantai nilai komoditas di daerah.
Sejumlah pelaku usaha juga mulai menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah hasil produksi menjadi produk bernilai ekonomi. Limbah kelapa, misalnya, diolah menjadi berbagai produk kerajinan dan bahan baku industri. Selain itu, beberapa usaha turut mengembangkan konsep agrowisata dan edukasi untuk memperluas pasar sekaligus mendukung keberlanjutan usaha.
Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menilai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi kini tidak lagi hanya berkembang di industri besar, tetapi juga telah diterapkan di sentra-sentra perkebunan rakyat. Kemampuan mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tambah dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat perekonomian perdesaan.
Sebagai bentuk apresiasi terhadap inovasi para pelaku usaha, Kementan melalui Direktorat Jenderal Perkebunan memberikan penghargaan kepada pemenang Lomba Karya Wirausaha PENAS XVII 2026. Juara pertama diraih Rumah Produksi Henahuafiz dari Kalimantan Selatan, disusul BUMP PT Sinergi Brebes Inovatif dari Jawa Tengah di posisi kedua, dan Adana Gula Semut dari Daerah Istimewa Yogyakarta di posisi ketiga.
Ke depan, Kementerian Pertanian akan terus mendorong pengembangan usaha berbasis hilirisasi melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, penguatan kelembagaan pekebun, perluasan akses pasar, serta kemitraan dengan dunia usaha.
Melalui PENAS XVII, Kementan menegaskan komitmennya untuk menjadikan hilirisasi sebagai penggerak utama peningkatan nilai tambah komoditas perkebunan, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan pekebun sekaligus memperkuat daya saing perkebunan Indonesia di pasar nasional maupun global.










