TVRINews – Jakarta
Pasar keuangan Indonesia mengalami penurunan drastis menuju level terendah dalam sepuluh tahun terakhir.
Pasar keuangan domestik kembali berada dalam tekanan besar setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan tajam pada sesi perdagangan awal. Tekanan ini dipicu oleh wacana Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertimbangkan reklasifikasi bursa saham Indonesia ke dalam kategori pasar mandiri (standalone market).
Mengawali perdagangan di zona merah pada posisi 4.961,88, indeks acuan Bursa Efek Indonesia tersebut terus melorot hingga kehilangan lebih dari 263 poin atau sekitar 5,11 persen menuju level 4.918 hanya dalam waktu sepuluh menit pertama.
IHSG sempat menyentuh titik terendahnya sepanjang hari di level 4.915,32, sebelum bergerak tipis di kisaran tertinggi harian yang hanya mencapai 4.974,66.
Berdasarkan pencatatan histori pasar modal, posisi indeks saat ini setara dengan pergerakan harga pada April 2016 lalu, yang menandakan pengikisan nilai ekuitas ke kisaran angka satu dekade silam.
Hingga pertengahan Senin 19 Oktober 2026 sesi pagi, aktivitas perdagangan mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp4,81 triliun dengan volume mencapai 4,64 miliar saham yang berpindah tangan melalui 275.200 kali frekuensi transaksi.
Dominasi tekanan jual terlihat jelas dari peta pergerakan saham harian. Sebanyak 751 saham terkoreksi, sementara hanya 43 saham yang berhasil menguat, dan 169 saham sisanya tercatat stagnan tanpa perubahan harga.
Wacana penyesuaian status oleh MSCI menjadi sorotan utama para pelaku pasar internasional. Jika reklasifikasi ke kategori standalone market terealisasi, posisi Indonesia dalam indeks acuan global berpotensi goyah, yang berisiko memicu gelombang pelepasan aset oleh investor institusi asing.
Para analis menilai penurunan signifikan ini mencerminkan tingginya kehati-hatian pelaku pasar dalam merespons ketidakpastian regulasi dan tata kelola di pasar modal domestik. Investor kini menantikan langkah antisipatif serta klarifikasi resmi dari otoritas bursa guna meredam volatilitas yang meluas.










