TVRINews – Jakarta
Mata uang Garuda dibayangi ancaman penurun status pasar modal oleh MSCI, meski intervensi Bank Indonesia berpotensi menahan laju penurunan.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada di bawah bayang-bayang tekanan pada transaksi perdagangan awal pekan, Senin 19 Oktober 2026. Sentimen negatif pasar domestik, khususnya terkait evaluasi klasifikasi indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI), menjadi penekan utama pergerakan mata uang nasional.
Sebelumnya pada penutupan akhir pekan, Jumat 16 Oktober 2026, rupiah di pasar spot melemah 0,50 persen ke posisi Rp18.027 per dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat angka Rp18.052 per dolar AS, terkoreksi 104 poin dibanding periode perdagangan sebelumnya.
Gejolak pada pasar keuangan domestik terpicu oleh wacana MSCI yang membuka peluang reklasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market. Wacana tersebut memicu kekhawatiran meluasnya aksi lepas aset oleh investor asing serta menekan tingkat kepercayaan terhadap pasar modal dalam negeri.
Strategi Stabilisasi Otoritas Moneter
Menghadapi tingginya tekanan eksternal dan internal, Melalui Laman Resminya Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk mempertahankan keberadaan di pasar (triple intervention) guna menjaga kestabilan nilai tukar agar tetap selaras dengan fundamental ekonomi.
Langkah pengawalan yang ditempuh BI mencakup intervensi pada transaksi over-the-counter non-deliverable forward (NDF) di pasar global, intervensi pasar spot dan DNDF di dalam negeri, hingga aksi korporasi pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
BI juga terus memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai serta mempererat koordinasi bersama para pelaku pasar.
Kendati demikian, efektivitas penyerapan tekanan tersebut turut ditentukan oleh seberapa cepat otoritas terkait merespons catatan MSCI mengenai keterbukaan informasi dan tata kelola struktur pasar modal nasional.
Faktor Kebijakan Moneter Global
Di luar sentimen domestik, fokus pelaku pasar global juga tertuju pada arah kebijakan moneter Bank Sentral AS (The Fed). Penyesuaian ekspektasi terhadap suku bunga acuan AS dinilai berpotensi mengubah daya tarik imbal hasil aset berdenominasi dolar AS terhadap mata uang negara berkembang.
Pasar juga menantikan paparan dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam rangkaian Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) di Bangkok, yang diprediksi memberikan petunjuk baru terkait arah kebijakan moneter global.
Apabila arus keluar modal asing terus berlanjut, mata uang Indonesia berisiko menguji titik terendah dari rentang proyeksi yang ditetapkan. Sebaliknya, eskalasi intervensi BI dan perbaikan sentimen investor berpotensi membuka ruang bagi rupiah untuk bergerak stabil di awal pekan ini.










