TVRINews - Jakarta
Setelah sehari sebelumnya anjlok Rp 48.000 per gram, logam mulia Antam kembali mencetak rekor penurunan tajam. Apakah ini saatnya beli, atau justru jual?
Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali terpeleset tajam di pasar hari ini. Setelah mencatat koreksi besar kemarin, harga logam mulia ini kembali turun Rp 22.000 per gram pada Kamis (24/4), menjadikan harga emas Antam saat ini berada di level Rp 1.969.000 per gram.
Penurunan ini memperpanjang tren korektif dalam dua hari terakhir, dengan total penurunan mencapai Rp 70.000 per gram—sebuah angka yang mengejutkan bagi banyak investor ritel maupun pelaku pasar profesional.
Tak hanya harga jual, harga buyback alias harga beli kembali oleh Antam juga ikut merosot ke angka Rp 1.818.000 per gram, turun dari posisi sebelumnya yang berada di Rp 1.840.000. Ini menjadi pukulan ganda bagi pemilik logam mulia yang berniat menjual dalam waktu dekat.
Perlu diingat, dalam setiap transaksi pembelian emas batangan Antam, konsumen akan dikenakan PPh 22 sebesar 0,9 persen sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34 Tahun 2017. Namun, bagi pembeli yang menyertakan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), tarif ini dapat ditekan hingga 0,25 persen, berdasarkan PMK Nomor 38 Tahun 2023.
Sementara itu, untuk transaksi penjualan kembali (buyback) dengan nominal lebih dari Rp 10 juta, PPh 22 juga akan dikenakan: 1,5 persen bagi pemilik NPWP dan 3 persen untuk yang tidak memilikinya. Pajak ini otomatis dipotong dari nilai transaksi buyback.
Berikut adalah rincian harga emas batangan Antam per 24 April 2025:
• 0,5 gram: Rp 1.034.500
• 1 gram: Rp 1.969.000
• 2 gram: Rp 3.878.000
• 3 gram: Rp 5.792.000
• 5 gram: Rp 9.620.000
• 10 gram: Rp 19.185.000
• 25 gram: Rp 47.837.000
• 50 gram: Rp 95.595.000
• 100 gram: Rp 191.112.000
• 250 gram: Rp 477.515.000
• 500 gram: Rp 954.820.000
• 1.000 gram: Rp 1.909.600.000
Meski terlihat menggiurkan bagi yang menantikan harga murah, penurunan harga emas ini juga bisa menjadi sinyal ketidakpastian pasar global. Para analis kini tengah mencermati faktor-faktor seperti pergerakan dolar AS, suku bunga global, hingga dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi tren harga ke depan.
Baca Juga: Ekonom: MBG Dorong Rantai Ekonomi dan Produktivitas SDM










