TVRINews, Jakarta
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, melaporkan kepada Presiden Indonesia, Prabowo Subianto terkait dengan hasil roadshow internasional yang dilakukan perusahaan ke sejumlah pusat keuangan dunia dalam rangka penerbitan obligasi global perdana atau global bond. Hal ini, diungkapkan olehnya di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin, 15 Juni 2026 hari ini.
Lebih lanjut, ia mengatakan rangkaian kunjungan tersebut berlangsung sejak 3 Juni 2026 dan mencakup sejumlah kota penting, mulai dari Hong Kong, Singapura, Boston, London hingga New York. Di mana, kegiatan tersebut dilakukan setelah Danantara memperoleh peringkat investasi (investment grade) dari lembaga pemeringkat internasional.
“Kami di Danantara melakukan kunjungan ke beberapa negara sejak tanggal 3 Juni, mulai dari Hong Kong, Singapura, kemudian juga ke Boston, London, dan berakhir di New York,” kata Rosan.
Menurutnya, Danantara sebelumnya telah memperoleh peringkat setara dengan sovereign rating Indonesia dari Moody’s dan S&P. Selain itu, perusahaan juga mendapatkan peringkat tertinggi AAA dari Pefindo.
“Setelah mendapatkan rating yang sama dengan sovereign rating Indonesia, kami melakukan roadshow untuk pertama kalinya menerbitkan global bond dari Danantara,” ujarnya.
Awalnya, kata dia, Danantara menargetkan penghimpunan dana sebesar US$1 miliar melalui penerbitan obligasi global tersebut. Namun tingginya minat investor membuat nilai penawaran meningkat jauh di atas target awal.

(Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani (kanan) dan Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi (Kiri). (Foto: Youtube Setpres))
“Dari rencana 1 miliar dolar yang ingin kami capai, bookbuilding yang masuk itu kurang lebih mencapai 4,6 miliar dolar,” ungkap Rosan.
Ia mengaku tingginya respons investor bahkan di luar perkiraan perusahaan maupun lembaga penjamin emisi yang mendampingi proses penerbitan obligasi tersebut.
“Kami cukup terkejut, termasuk bank-bank pendamping kami, karena responsnya sangat positif. Kami menemui kurang lebih 122 investor dari berbagai negara,” katanya.
Melihat besarnya permintaan, Danantara memutuskan meningkatkan nilai penerbitan obligasi dari US$1 miliar menjadi US$1,5 miliar. Obligasi tersebut diterbitkan dalam dua tenor, yakni lima tahun dan sepuluh tahun.
“Akhirnya kami melakukan up-size dari 1 miliar menjadi 1,5 miliar dolar AS yang dibagi menjadi dua tenor, yaitu lima tahun dan sepuluh tahun,” ujar Rosan.
Untuk tenor lima tahun, obligasi ditawarkan dengan tingkat kupon 5,35 persen, sedangkan tenor sepuluh tahun sebesar 5,95 persen.
“Ini adalah hasil yang sangat bagus dan membuktikan kepercayaan investor terhadap Indonesia itu nyata,” katanya.
Rosan menyebut proses penandatanganan transaksi telah dilakukan pada 11 Juni, sementara dana hasil penerbitan obligasi dijadwalkan masuk ke rekening Danantara pada 18 Juni 2026.
Keberhasilan penerbitan obligasi perdana tersebut juga mendapat perhatian media internasional. Rosan mengutip pemberitaan Bloomberg yang menyebut transaksi itu sebagai salah satu indikator positif terhadap kepercayaan pasar kepada Indonesia.
“Bloomberg menyatakan ini sebagai ‘Danantara sells debut dollar bond, a win for Prabowo after rout’. Ini menunjukkan penerbitan obligasi kita mendapat respons yang sangat baik,” ujarnya.
Berdasarkan data distribusi investor, mayoritas pembeli obligasi tenor lima tahun berasal dari Eropa dan Timur Tengah sebesar 41 persen, disusul Amerika Serikat 38 persen dan Asia 21 persen. Sementara untuk tenor sepuluh tahun, investor asal Amerika Serikat mendominasi dengan porsi 52 persen, diikuti Eropa dan Timur Tengah 31 persen serta Asia 17 persen.
“Ini menarik karena biasanya obligasi Indonesia banyak dibeli investor Asia. Kali ini justru mayoritas investornya berasal dari Amerika Serikat,” kata Rosan.
Melihat tingginya minat pasar global, Danantara membuka peluang untuk menerbitkan obligasi dengan tenor yang lebih panjang di masa mendatang, termasuk hingga 30 tahun. Menurut Rosan, hal itu menjadi sinyal kuat bahwa investor internasional masih menaruh kepercayaan besar terhadap prospek ekonomi Indonesia.










