TVRINews – Jakarta
Disiplin fiskal dan cadangan devisa kuat jadi modal utama
Di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat gangguan rantai pasok dan eskalasi konflik geopolitik, Indonesia menunjukkan resiliensi yang signifikan. Data terbaru menunjukkan bahwa fundamental ekonomi domestik pada tahun 2026 tetap solid, didukung oleh kedisiplinan fiskal yang terjaga dan kinerja sektor eksternal yang stabil.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam Rapat dengan pendapat Kementeria Keuangan senin 15 Juni 2026 di komplek Parlemen, Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang kompetitif pada kuartal pertama tahun 2026, menempatkannya di jajaran atas di antara negara-negara G20. Keberhasilan ini tidak lepas dari kebijakan ekonomi yang mampu meredam volatilitas harga komoditas serta tekanan inflasi global.
Hingga akhir Mei 2026, inflasi domestik tercatat terkendali di angka 3,08 persen secara year-on-year (yoy). Stabilitas harga ini dibarengi dengan surplus neraca perdagangan yang konsisten selama 72 bulan berturut-turut, dengan nilai surplus mencapai 5,64 miliar dolar AS pada periode Januari hingga April 2026.
"Ketahanan ekonomi kita ditopang oleh buffer yang memadai. Disiplin fiskal yang ketat membuat defisit anggaran tetap terkendali pada angka 0,70 persen dari PDB per akhir Mei 2026," demikian analisis berdasarkan laporan data ekonomi tersebut.
Dari sisi fiskal, realisasi pendapatan negara hingga 31 Mei 2026 tercatat mencapai Rp1.185,0 triliun, tumbuh 19,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini mencerminkan optimisme pelaku usaha dan efektivitas sistem perpajakan domestik.
Sektor riil pun menunjukkan sinyal positif dengan aktivitas manufaktur yang tetap ekspansif, mencapai angka 50,0 pada Mei 2026. Selain itu, pertumbuhan penyaluran kredit perbankan yang mencapai 10,0 persen (yoy) pada April 2026 menunjukkan bahwa perputaran uang di masyarakat tetap terjaga, seiring dengan pertumbuhan uang beredar (M0) sebesar 16,6 persen (yoy) pada awal Juni 2026.
Namun, tantangan eksternal tetap menjadi perhatian utama. Perang dagang dan konflik geopolitik di berbagai belahan dunia diprediksi masih akan memicu volatilitas harga komoditas serta tekanan pada nilai tukar. Hal ini menuntut kewaspadaan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi agar laju pertumbuhan tetap berada pada jalur yang diharapkan.
Dengan cadangan devisa yang kuat mencapai 144,9 miliar dolar AS per Mei 2026, Indonesia memiliki amunisi yang cukup untuk menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah dinamika pasar global yang terus berubah. Langkah antisipatif pemerintah dan otoritas moneter diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ini hingga akhir tahun.








