TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, mendorong pelaku ekonomi kreatif untuk memperkuat nilai tambah karya melalui pengembangan intellectual property (IP), storytelling, dan penguatan brand agar mampu bersaing di pasar global.
Menurut Irene, pelaku ekonomi kreatif perlu mulai mengubah cara pandang dari sekadar menjual produk menjadi membangun identitas merek yang kuat dan memiliki cerita yang relevan dengan pasar.
"Kita perlu mulai berpikir bukan hanya menjual produk, tetapi juga membangun dan mengekspor brand Indonesia. Ketika sebuah brand memiliki identitas yang kuat dan mampu bercerita, nilai tambah yang tercipta akan jauh lebih besar dan berkelanjutan," ujar Irene dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Ia menilai kekayaan budaya Indonesia merupakan aset besar yang dapat dikembangkan menjadi IP lokal bernilai ekonomi tinggi. Selain memperkuat identitas bangsa, pengembangan IP berbasis budaya juga berpotensi meningkatkan daya saing produk kreatif Indonesia di pasar internasional.
Menurutnya, tantangan saat ini bukan terletak pada minimnya sumber inspirasi budaya, melainkan bagaimana mengemasnya menjadi karya yang dekat dengan generasi muda tanpa menghilangkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
"Budaya Indonesia memiliki cerita yang sangat kaya. Tantangannya adalah mengemas cerita tersebut menjadi karakter dan IP yang relevan bagi generasi muda tanpa kehilangan nilai budayanya," ucapnya.










