TVRINews, Jakarta
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto dinilai sebagai strategi ekonomi yang efektif. Program MBG dinilai sebagai bentuk redistribusi produktif yang berdampak nyata bagi ekonomi lokal dan masa depan tenaga kerja.
Dalam keterangan tertulisnya, Senin, 21 April 2025, Ekonom Fakhrul Fulvian menyebut kebijakan ini sebagai bentuk redistribusi produktif yang memberi dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi dan kualitas sumber daya manusia. ia menekankan pentingnya keseimbangan antara disiplin fiskal dan investasi publik.
“Dalam kerangka Fiscal Prudence 2.0—sebuah pendekatan yang mencoba menyeimbangkan kedisiplinan fiskal dengan belanja publik yang mendorong pertumbuhan—program makan gratis bukanlah bentuk amal. Ini adalah bentuk redistribusi yang produktif,” ujar Fakhrul, dikutip Rabu, 23 April 2025.
Chief Economist Trimegah Sekuritas Indonesia itu menjelaskan, asupan nutrisi yang cukup pada masa pertumbuhan berdampak langsung terhadap kecerdasan, kehadiran di sekolah, hingga produktivitas kerja di masa depan.
Ia menambahkan, MBG juga berfungsi sebagai stimulus ekonomi yang tepat sasaran, terutama bagi rumah tangga berpenghasilan rendah.
“Efek pengganda fiskal dari makan gratis bukanlah teori semata—ia nyata dalam bentuk aktivitas ekonomi lokal, pergerakan rantai pasok makanan, dan berkurangnya beban keuangan rumah tangga,” tegasnya.
Menurut Fakhrul, keluarga miskin cenderung menggunakan tambahan penghasilan untuk kebutuhan dasar, sehingga stimulus seperti MBG langsung menggerakkan konsumsi dan ekonomi lokal. Dalam konteks ini, makan gratis bukan sekadar bantuan, melainkan katalis pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.










