TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar mendorong agar gagasan kreatif masyarakat tidak berhenti pada tahap ide, tetapi dikembangkan hingga menjadi prototipe dan produk yang memiliki nilai tambah ekonomi.
Hal itu disampaikan Irene saat menerima audiensi The Innovators Studio (TIS). Menurutnya, pengembangan ide kreatif membutuhkan kolaborasi lintas pihak agar dapat masuk ke tahap implementasi dan memberikan dampak ekonomi.

"Kementerian Ekraf tidak hanya ingin melihat ide berhenti sebagai ide karena membutuhkan kolaborasi lintas pihak. Kita perlu melihat bagaimana ide bisa dihitung nilai tambah dan potensi perputaran ekonominya, dibuat prototipe, kemudian dipertemukan dengan pihak yang tepat sehingga bisa masuk ke tahap implementasi dan memberikan dampak," ujar Irene.
Irene mengatakan, pemerintah akan mengambil peran lebih aktif dalam menemukan dan menghubungkan para pelaku ekonomi kreatif yang memiliki gagasan inovatif dengan ekosistem pendukung.
Menurutnya, peran pemerintah tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai penghubung antara kreator dengan pihak-pihak yang memiliki sumber daya strategis untuk mengembangkan inovasi.
"Dua puluh satu subsektor yang berada dalam naungan Kementerian Ekraf memiliki para pejuang yang harus berjuang. Seperti para desainer dan arsitek yang tidak hanya terlihat dari sisi values, tetapi harus memiliki sesuatu yang futuristis," katanya.
Irene menambahkan, Kementerian Ekraf memiliki tugas untuk menemukan talenta-talenta potensial sekaligus melihat peluang kolaborasi yang dapat mendukung pengembangan gagasan kreatif dan inovatif.
"Tugas kami tentu mencari talenta-talenta yang punya potensi dan melihat apa yang bisa kita kolaborasikan untuk mendukung atau menjadi penghubung maupun penerjemah dari gagasan-gagasan kreatif yang inovatif," ucapnya.
Dalam audiensi tersebut, TIS memaparkan visi, pendekatan, serta portofolionya dalam mentransformasi ide menjadi Intellectual Property (IP) dan produk komersial melalui perpaduan desain, teknologi, dan storytelling.
Beberapa portofolio yang dipaparkan di antaranya riset penataan kota Neo Sabang serta pengembangan social bracelet berbasis chip NFC.
Perwakilan TIS, Mr. Q, mengatakan masih banyak ide menarik dari kreator Indonesia yang menghadapi kendala ketika hendak masuk ke tahap prototipe, terutama terkait komponen, peralatan, dan akses teknologi.
"Kami melihat sebenarnya orang-orang Indonesia memiliki banyak ide yang menarik. Tantangannya adalah ketika ide tersebut masuk ke tahap prototipe, masih terkendala komponen, peralatan, dan akses teknologi. Akibatnya, dari segi gagasan akhirnya berhenti hanya tahap ide," imbuh Mr. Q.
Kementerian Ekraf dan TIS selanjutnya menjajaki peluang kolaborasi untuk memperluas jejaring inovator, mempermudah akses industri, serta mendorong hilirisasi produk kreatif.
Sinergi tersebut juga berpotensi melibatkan asosiasi industri, komunitas makers, pemasar, investor, hingga pemerintah daerah guna mempercepat transformasi ide menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya penguatan ekosistem ekonomi kreatif menjelang penyelenggaraan World Conference on Creative Economy (WCCE) pada 21–23 Oktober 2026.










