TVRINews, Jakarta
Produksi beras Indonesia pada 2026-2027 diproyeksikan mencapai 38,6 juta ton. Capaian tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, meski sejumlah wilayah Indonesia tengah menghadapi kekeringan akibat fenomena El Nino.
Pelaksana Tugas Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, mengatakan produksi beras nasional tahun ini naik sekitar 0,20 persen dari 38,5 juta ton menjadi 38,6 juta ton.
Menurut Heru, capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan produksi beras terbesar keempat di dunia, setelah India, China, dan Bangladesh. Sementara di kawasan ASEAN, Indonesia berada di posisi pertama, mengungguli Thailand dan Vietnam.
“Nah, seperti saya sampaikan tadi bahwa Indonesia meskipun di tengah El Nino yang cukup kuat ini justru meningkat produksi berasnya. Naik sekitar 0,20% dari tahun lalu, dari 38,5 menjadi 38,6 juta ton. Dan saya sampaikan tadi, kita nomor 4 di dunia dan nomor 1 di ASEAN,” kata Heru dalam konferensi melalui kanal Youtube BNPB, Selasa, 15 September 2026.
Heru menyebut peningkatan produksi tersebut menjadi salah satu indikator ketahanan pangan nasional di tengah kondisi cuaca yang kurang mendukung. Ia mengatakan pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak awal untuk menjaga produktivitas pertanian.
Langkah tersebut antara lain melalui pemetaan wilayah yang rawan kekeringan, percepatan tanam, pemberian bantuan alat dan mesin pertanian, serta optimalisasi pompa dan jaringan irigasi.
Kementan juga mengatur pola tanam sesuai kondisi masing-masing wilayah. Daerah yang masih memiliki ketersediaan air diarahkan untuk mempercepat penanaman padi, sedangkan wilayah yang mengalami kekeringan dapat mengalihkan budidaya ke komoditas lain yang lebih sesuai.
“Jadi, kita optimis bahwa produksi kita di tahun ini di angka 38 juta ton tadi. Jadi, pangan kita cukup melalui kegiatan mapping, kemudian ada kegiatan percepatan tanam. Kita tentu petakan mana-mana wilayah yang masih cukup hujannya, kemudian yang tidak cukup hujannya berarti mengoptimalkan bantuan-bantuan pompa maupun irigasi perpompaan, irigasi perpipaan yang kesemuanya itu adalah untuk melakukan gerakan percepatan tanam,” jelasnya.
Heru menambahkan, dukungan pemerintah terhadap petani juga dilakukan melalui penyediaan benih, alat dan mesin pertanian, serta kemudahan akses pupuk. Harga pupuk disebut telah mengalami penurunan 20 persen sebagai bagian dari kebijakan pemerintah untuk membantu petani.
Menurutnya, berbagai dukungan tersebut diharapkan dapat mempertahankan produksi pangan nasional meski tantangan kekeringan dan El Nino masih terjadi di sejumlah daerah.
Selain beras, Kementan menyebut sejumlah komoditas pangan lainnya seperti cabai besar, cabai rawit, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah berada dalam kondisi cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.










