TVRINews, Jakarta
Kementerian Pertanian memastikan ketersediaan beras nasional masih aman untuk memenuhi kebutuhan hingga 10 bulan ke depan, meski sejumlah wilayah Indonesia tengah menghadapi kekeringan.
Pelaksana Tugas Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, mengatakan ketersediaan beras saat ini ditopang oleh produksi yang masih berlangsung, stok beras di masyarakat, serta cadangan pemerintah yang tersimpan di Perum Bulog.
Heru menjelaskan, sekitar 3,8 juta hektare lahan yang masih berada dalam fase standing crop diperkirakan setara dengan sekitar 10 juta ton beras.
“Kemudian stok pangan beras di hotel, restoran, kafe atau Horeka dan rumah tangga itu di kisaran 10 juta ton beras dan stok beras di Bulog sendiri hampir 5 juta ton beras (4,6 juta ton), sehingga untuk 10 bulan ke depan kita masih cukup dan aman untuk beras,” ujar Heru dalam keterangannya melalui kanal YouTube BNPB, Selasa, 15 September 2026.
Heru mengatakan kondisi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah. Menurutnya, pemerintah tetap optimistis produksi pangan nasional dapat terjaga hingga akhir tahun. Tidak hanya beras, sejumlah komoditas pangan lainnya juga disebut berada dalam kondisi cukup dan aman.
“Jadi, di tengah-tengah keringan sekarang yang melanda Indonesia, tadi disampaikan Pak Berton terjadi karhutla kekeringan di beberapa wilayah. Kita masih optimis bahwa produksi pangan kita terjamin sampai akhir tahun, tidak hanya untuk beras. Kita juga stoknya sampai akhir tahun untuk gula konsumsi, kemudian cabe besar, cabe rawit, kemudian jagung, daging ayam, telur ayam, bawang merah, itu semuanya cukup dan aman,” tambahnya.
Kementan juga telah melakukan berbagai langkah antisipasi terhadap dampak kekeringan. Upaya tersebut dilakukan melalui pemetaan wilayah yang rawan mengalami kekeringan, percepatan tanam, hingga optimalisasi alat dan mesin pertanian.
Heru menyebut pemerintah telah menyiapkan bantuan berupa traktor, crawler, combine harvester, pompa air, serta sarana irigasi perpompaan dan perpipaan. Bantuan tersebut diarahkan untuk menjaga kegiatan pertanian tetap berjalan meski ketersediaan air terbatas.
“Jadi, kita optimis bahwa produksi kita di tahun ini di angka 38 juta ton tadi. Jadi, pangan kita cukup melalui kegiatan mapping, kemudian ada kegiatan percepatan tanam. Kita tentu petakan mana-mana wilayah yang masih cukup hujannya, kemudian yang tidak cukup hujannya berarti mengoptimalkan bantuan-bantuan pompa maupun irigasi perpompaan, irigasi perpipaan yang kesemuanya itu adalah untuk melakukan gerakan percepatan tanam,” pungkasnya.
Kementan juga menyesuaikan pola tanam berdasarkan kondisi masing-masing wilayah. Daerah yang terlalu kering dan tidak memungkinkan ditanami padi dapat dialihkan untuk komoditas lain, termasuk hortikultura maupun perkebunan.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap produksi pangan nasional tetap terjaga dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi meski Indonesia masih menghadapi kondisi kekeringan.










