TVRINews, Jakarta
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, mengungkapkan tiga pesan utama yang diangkat dalam penyelenggaraan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026. Ketiganya mencakup penguatan kreativitas manusia di tengah perkembangan teknologi, pertumbuhan ekonomi kreatif yang inklusif, serta perluasan akses pembiayaan dan pasar bagi pelaku ekonomi kreatif.
Riefky mengatakan, ekonomi kreatif kini bukan lagi sektor pelengkap, melainkan bagian penting dari masa depan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional maupun global.
"Prinsipnya agar AI dan teknologi harus untuk memperkuat kreativitas, bukan untuk menggantikannya," ujar Riefky kepada wartawan termasuk tvrinews.com dalam konferensi pers usai sesi pleno WCCE 2026 di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.
Pesan pertama yang diangkat adalah pentingnya menempatkan pelaku ekonomi kreatif sebagai pusat pengembangan ekosistem ekonomi kreatif. Menurut Riefky, perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi digital menjadi tantangan yang perlu dibahas bersama, tidak hanya oleh Indonesia, tetapi juga oleh komunitas ekonomi kreatif dunia.
Melalui dokumen Jakarta Vision yang disiapkan dalam WCCE 2026, pemerintah ingin mendorong pembahasan mengenai tantangan tersebut di tingkat internasional. Selain itu, akses terhadap teknologi dan infrastruktur digital perlu semakin inklusif agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
"Jadi akses terhadap teknologi, infrastruktur digital juga harus semakin inklusif agar manfaatnya juga dirasakan lebih luas," ucapnya.
Pesan kedua adalah mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang inklusif, adil, dan berkelanjutan. Riefky menjelaskan, sektor ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk membuka kesempatan bagi berbagai kelompok masyarakat, termasuk generasi muda, perempuan, dan penyandang disabilitas.
"Tadi saya sudah sebutkan karena sektor ini inklusif mayoritas itu diminati dan dilakukan oleh gen Z dan millennial, Perempuan, bahkan juga untuk kelompok rentan itu juga sangat terbuka. Termasuk penyandang disabilitas," terangnya.
Ia menyebutkan, tenaga kerja sektor ekonomi kreatif di Indonesia mencapai 27,4 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 63 persen merupakan generasi Z dan milenial, sementara 58 persen adalah perempuan.
Pesan ketiga berkaitan dengan perluasan akses pembiayaan dan pasar bagi pelaku ekonomi kreatif. Pemerintah mendorong agar hasil kreativitas dapat memiliki nilai ekonomi melalui pengembangan akses pasar dan komersialisasi kekayaan intelektual (intellectual property/IP).
Riefky menilai, akses pembiayaan berbasis kekayaan intelektual masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi pelaku ekonomi kreatif. Selain itu, kreator di berbagai negara juga menghadapi persoalan transparansi dan keadilan dalam penghitungan pendapatan pada platform digital.
Kemudian ia mengatakan, persoalan tersebut turut dirasakan pelaku ekonomi kreatif di negara-negara berkembang, sehingga membutuhkan upaya bersama melalui forum internasional.
"Hal-hal ini juga sekarang kita lihat menjadi perlu kita perjuangkan bersama-sama. Forum-nya adalah WCCE, dokumennya adalah Jakarta Vision," katanya.
Jakarta Vision disiapkan melalui serangkaian pembahasan dan konsultasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, asosiasi, hingga pelaku ekonomi kreatif internasional.
Pemerintah berharap dokumen tersebut dapat disepakati dalam rangkaian WCCE 2026 dan dibawa ke Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Desember 2026, dengan berkoordinasi bersama Kementerian Luar Negeri.
Melalui WCCE 2026, Indonesia berupaya memperkuat kolaborasi internasional untuk menjawab tantangan ekonomi kreatif sekaligus mendorong karya dan kekayaan intelektual lokal agar mampu menembus pasar global.
Sebagai informasi, World Conference on Creative Economy (WCCE) merupakan inisiatif Indonesia yang dimulai pada 2018 di Bali. Penyelenggaraannya kemudian berlanjut di Dubai pada 2021, Bali pada 2022, Tashkent pada 2024, dan kembali ke Jakarta pada 2026. Keberlanjutan forum ini menunjukkan upaya Indonesia dalam mengawal diplomasi ekonomi kreatif di tingkat internasional.
WCCE 2026 mengusung tema "Inclusively Creative: Collective Continuity" yang mendorong kolaborasi untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu merespons dinamika global.
Agenda utama WCCE 2026 berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 di Hotel Indonesia Kempinski dan CGV Grand Indonesia, Jakarta. Rangkaian kegiatan meliputi Friends of Creative Economy Meeting pada 21 Oktober, Ministerial Meeting pada 22 Oktober, serta sesi pleno, Creative Sessions, dan B2B Matchmaking pada 22–23 Oktober 2026.
Selain konferensi utama, masyarakat juga dapat menikmati rangkaian Creativillage pada 21–25 Oktober 2026 di kawasan SCBD, Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang pengalaman kreatif yang menghadirkan karya dan aktivitas dari berbagai subsektor ekonomi kreatif.
Rangkaian Creativillage meliputi Soul of Indonesia di Akasta SCBD pada 21 Oktober, Village One di Ashta District 8 dan Village Two di MGP Space, SCBD Park pada 21–25 Oktober, serta WCCE Weekland di SCBD Park pada 24–25 Oktober 2026.
Berbagai kegiatan tersebut menghadirkan karya dari subsektor seni, desain, fesyen, literatur, permainan, teknologi, kuliner, kekayaan intelektual, hingga produk kreatif dari berbagai daerah di Indonesia.










