TVRINews – Jakarta
Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak stabil di rentang Rp18.000 hingga Rp18.090 per dolar AS di tengah pelonggaran likuiditas domestik dan dinamika pasar modal global.
Nilai tukar rupiah diperkirakan mengalami fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah terbatas pada perdagangan spot hari ini, Kamis 22 Oktober 2026. Sinyal pergerakan mata uang Garuda ini diperkirakan berada dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.090 per dolar AS
Meskipun menghadapi tekanan pasar global, pergerakan rupiah mendapatkan topangan dari meredanya penguatan indeks dolar AS serta relatif stabilnya harga minyak mentah dunia.
Indeks dolar AS tercatat melemah tipis 0,07% ke kisaran 101,7. Hal ini sejalan dengan tingkat imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS yang bertahan stabil di level 5,11%. Di pasar komoditas, harga minyak mentah jenis Brent ditutup naik tipis 0,03% ke level US108,8 perbarel (sekitar Rp1.963.840perbareldenganasumsikursRp18.050/US).
Kondisi tersebut memberi ruang bagi mayoritas mata uang kawasan Asia untuk bertahan di zona hijau meski bergerak terbatas. Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah sempat menguat tipis 0,08% ke level Rp18.061 per dolar AS pada pagi hari sebelum kembali terkoreksi secara dinamis.
Aliran Modal Asing dan Kebijakan Bank Indonesia
Sentimen pelaku pasar di kawasan regional saat ini masih berada dalam posisi hati-hati menyusul dinamika geopolitik di Timur Tengah. Kendati demikian, laporan mengenai kelancaran pasokan energi dunia memberikan kompensasi positif terhadap pergerakan aset-aset berisiko di Asia.
Data arus modal global menunjukkan respons investor yang cenderung terpecah (divergent). Korea Selatan dan Thailand mencatatkan arus masuk modal asing (capital inflow) terbesar, di mana Korea Selatan membukukan pembelian bersih saham mencapai US357juta(sekitarRp6,44triliun).Sebaliknya,pasarsahamIndonesiahanyamencatatkanpembelianbersihsebesarUS693 ribu (sekitar Rp12,50 miliar).
Di sisi domestik, pergerakan nilai tukar turut dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Otoritas moneter memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75%. Namun, BI sekaligus mengambil langkah campuran (mix policy) guna menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Langkah strategis tersebut mencakup penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) dari 9% menjadi 7% untuk menyuntikkan likuiditas ke sektor perbankan, serta menaikkan suku bunga Deposit Facility sebesar 25 basis poin menjadi 5%.
Kombinasi Kebijakan BI tersebut, ditambah belum sepenuhnya redanya perhatian investor terhadap penilaian indeks MSCI pada pasar saham nasional, diperkirakan membuat pergerakan rupiah tetap berada dalam koridor defensif dan penuh kehati-hatian sepanjang hari ini.










