TVRINews – Jakarta
Pasar Mengamati Sentimen Geopolitik Global dan Prospek Pelonggaran Kredit Domestik.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami koreksi tipis pada pembukaan perdagangan Jumat 23 Oktober 2026 pagi. Tekanan eksternal dari dinamika geopolitik global masih menahan pergerakan mata uang domestik, di tengah sinyal positif optimisme penyaluran kredit perbankan dalam negeri.
Berdasarkan pencatatan Refinitiv pada hari ini, mata uang Garuda berada di posisi Rp18.050 per dolar AS saat perdagangan dibuka. Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 0,03 persen atau terdepresiasi 5 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya di tingkat Rp18.045 per dolar AS. Pada saat bersamaan, indeks dolar AS (DXY) bergerak relatif mendatar pada level 101,603 sejak pukul 09.00 WIB.
Di tengah fluktuasi kurs, sektor perbankan dalam negeri menunjukkan proyeksi pemulihan. Bank Indonesia (BI) memperkirakan adanya akselerasi penyaluran kredit baru pada kuartal IV-2026 yang didorong oleh penyesuaian kebijakan penyaluran likuiditas.
Dalam rilis Survei Perbankan Triwulan III-2026, otoritas moneter mencatat indikator Saldo Bersih Tertimbang (SBT) untuk prakiraan penyaluran kredit baru berpotensi menguat ke kisaran 91,31 persen, naik dari periode sebelumnya sebesar 90,08 persen.
Indikator pelonggaran tersebut tecermin dari pergerakan Indeks Lending Standard (ILS) yang melandai dari 0,28 ke level 0,15. Perubahan instrumen ini mengindikasikan kriteria penyaluran pinjaman yang lebih fleksibel, sejalan dengan langkah Bank Indonesia meluas ruang likuiditas guna menopang sektor riil.
Kendati demikian, stabilitas pasar finansial berkembang masih dibayangi eskalasi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasokan energi dunia. Laporan The New York Times menyebutkan adanya pembahasan opsi aksi militer lanjutan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pascapemilu sela AS.
Pernyataan resmi Presiden AS Donald Trump yang mengonfirmasi ketiadaan dialog diplomatik dengan Teheran makin mempertegas ketidakpastian pasar global. Kondisi ini menjaga harga minyak mentah Brent tetap bertahan tinggi pada kisaran US$112,96 per barel di pasar Asia.
Bagi perekonomian Indonesia yang berstatus net importer minyak, lonjakan harga komoditas energi berisiko memperbesar beban devisa untuk kebutuhan impor sekaligus memberikan tekanan susulan terhadap tingkat inflasi domestik.
Sebagai dampaknya, para pelaku pasar cenderung mengalihkan portofolio ke instrumen berisiko rendah (safe-haven assets), seperti surat utang pemerintah AS (US Treasury). Yield instrumen US Treasury tenor 10 tahun terpangkas hingga level 4,972 persen, sedangkan tenor dua tahun melandai ke posisi 4,659 persen.
Meski penurunan imbal hasil obligasi AS secara teoritis mengurangi intensitas tekanan terhadap mata uang negara berkembang, kewaspadaan investor terhadap dinamika global diperkirakan tetap membatasi ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.










