TVRINews, Jakarta
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka mengalami tekanan pada perdagangan akhir pekan, Jumat, 23 Oktober 2026.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah yang sempat dibuka stagnan pada level Rp18.050 per dolar AS (sama dengan penutupan sebelumnya), terpantau melemah 0,1 persen ke level Rp18.068 per dolar AS pada pukul 09.09 WIB.
Tekanan terhadap mata uang Garuda ini dipicu oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal, mulai dari kenaikan harga komoditas energi hingga dinamika kebijakan moneter.
Faktor Pemicu Tekanan Rupiah
1. Lonjakan Harga Minyak Mentah: Harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga US$112 per barel, diperparah oleh sentimen eksternal berupa ketegangan geopolitik dan serangan baru-baru ini terhadap Arab Saudi yang meningkatkan risiko pasokan energi global.
2. Sentimen Domestik dan Kebijakan BI: Rupiah masih terbebani oleh sentimen pasar terkait MSCI serta keputusan Bank Indonesia (BI) yang menempuh langkah hawkish hold dengan menahan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75% pada Oktober 2026.
3. Intervensi Pasar Luar Negeri: Di pasar offshore, upaya stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia masih terus berjalan. Rupiah dipertahankan di kisaran Rp18.100 per dolar AS, menunjukkan penguatan terbatas 0,09% di level Rp18.102/US$ setelah sempat terperosok ke level Rp18.139/US$ pada perdagangan malam sebelumnya.
Kondisi Pasar Global dan Pergerakan Obligasi
Dari kancah eksternal, indeks dolar AS terpantau cenderung landai di level 101,56 seiring meredanya ekspektasi pengetatan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS, The Federal Reserve. Pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada kisaran 3,75%–4% dengan probabilitas tinggi mencapai 92,8%.
Tren pelonggaran tersebut turut memangkas pergerakan yield obligasi global:
* Yield US Treasury tenor 10 tahun turun 15,1 bps ke level 4,96%.
* Yield obligasi di kawasan Asia bergerak stabil, seperti China (1,62%), Korea Selatan (4,13%), Taiwan (1,96%), dan Thailand (2,22%).
* Di pasar domestik, obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun memangkas yield menjadi 7,38%, sementara yield obligasi berdenominasi dolar AS (INDON) turun 4,8 bps ke level 6,15%.
Pergerakan pasar obligasi Asia turut memberikan sentimen variatif bagi mata uang regional. Won Korea Selatan menguat 0,28%, disusul peso Filipina (0,15%), yuan China (0,02%), dan ringgit Malaysia (0,01%). Sebaliknya, pelemahan dialami oleh dolar Hong Kong (-0,05%), yen Jepang (-0,02%), dan dolar Singapura (-0,02%).
Melihat kombinasi sentimen eksternal yang masih kuat terutama risiko lonjakan harga minyak global akibat dinamika geopolitik—rupiah diproyeksikan masih akan menghadapi tantangan dan tekanan dalam jangka pendek.










