TVRINews - Jakarta
Pemerintah memastikan kerja sama berkesinambungan dengan bank sentral demi meredam dampak dinamika ketidakpastian keuangan dunia.
Kementerian Keuangan menegaskan komitmennya untuk mempertahankan disiplin fiskal sebagai langkah konkret menjaga stabilitas perekonomian nasional di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Pemerintah memastikan koordinasi erat dengan Bank Indonesia (BI) terus berjalan secara berkesinambungan guna mengantisipasi dinamika pasar keuangan global.
Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sistem Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, menyatakan bahwa kebijakan moneter merupakan ranah independen bank sentral. Meski demikian, dari sisi pemerintah, penguatan kondisi fiskal menjadi fokus utama untuk menopang ketahanan ekonomi secara menyeluruh.
"Terkait perkembangan rupiah, pihak Bank Indonesia yang memiliki kewenangan memberikan penjelasan lebih mendalam. Pada prinsipnya, kewajiban kami di kementerian adalah mengawal dan menjaga ketahanan dari sisi fiskal," ujar Herman, dikutip Jumat, 23 Oktober 2026.
Herman menekankan pentingnya menghormati independensi BI dalam mengarahkan kebijakan moneter. Ia mengibaratkan kerja sama antara otoritas fiskal dan moneter seperti sebuah tim olahraga yang saling melengkapi untuk mencapai sasaran bersama.
"Sektor fiskal dan moneter bergerak beriringan dalam sebuah sinergi. Ibarat sebuah tim, terdapat pembagian peran yang saling mendukung, mulai dari fungsi bertahan, mengatur ritme permainan, hingga melancarkan strategi ofensif," tutur Herman.
Lebih lanjut, Herman menyoroti serangkaian instrumen kebijakan yang telah diresmikan bank sentral dalam menjaga kelancaran likuiditas, salah satunya melalui penyesuaian penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) dengan tetap mempertahankan suku bunga acuan pada tingkat terkendali.
Di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, pemerintah mengimbau seluruh pelaku ekonomi dan masyarakat untuk tetap memiliki keyakinan terhadap fundamental perekonomian domestik.
"Kami mengajak seluruh pihak untuk tetap optimistis terhadap arah perekonomian bangsa," tambahnya.
Langkah koordinasi ini mengemuka saat mata uang rupiah mengalami koreksi tipis terhadap dolar AS pada penutupan transaksi pasar valuta asing, Kamis, 22 Oktober 2026.
Mengutip data Refinitiv, mata uang Garuda berada di posisi Rp18.045 per dolar AS, atau melemah 0,25 persen dibandingkan hari sebelumnya, meskipun indeks dolar AS secara umum tercatat melandai.










